Periodisasi DPP Masa Bakti 2017-2022

PENGANTAR

Mengingat masa bakti para pengurus separoki Santo Fidelis Sigmaringen Parapat akan berakhir pada tahun 2017, maka dalam Sidang Paripurna DPP tahun pastoral 2015 kemarin, sosialisasi periodisasi sudah dirancang. Sosialisasi tersebut akan berlangsung kurang lebih selama setengah tahun. Menurut agenda tahunan paroki 2016, sebenarnya  hal ini sudah dicantumkan sejak tanggal 13 Maret 2016 sebagai Rancangan Pembentukan Tim Sosisalisasi Periodisasi. Tetapi karena alasan kesibukan dan karena sedikit terlalaikan, akhirnya pada tanggal 10 Juli 2016 hal ini dibicarakan pertama sekali dalam rapat bulanan DPP.  Dalam rapat ini diputuskan bahwa parokus mencoba membuat draft materi sosialisasi yang kemudian dipresentasikan pada tanggal 5 Agustus 2016 di kalangan DPP Inti. Hasil rapat ini kemudian akan dimatangkan dalam rapat bulanan DPP tanggal 14 Agustus 2016 sebagai materi pembekalan Tim Sosialisasi Periodisasi pada tanggal 26 Agustus 2016. Peserta pembekalan akan direkrut dari stasi, rayon dan DPP inti sendiri.

LATAR BELAKANG

Bertolak dari sebuah keprihatinan akan persentasi para pengurus terpilih yang kurang memberi diri dalam tugas pelayanan dan keprihatinan akan minimnya SDM pengurus yang aktif memberi diri maka muncullah evaluasi serius dalam rapat-rapat rutin DPP, dalam sermon-sermon, rapat presidium dan sidang paripurna DPP. Evaluasi panjang ini akhirnya melahirkan beberapa poin keprihatinan yang cukup mengemuka yakni:

  1. Cukup lumayan jumlah pengurus yang sama sekali tidak menghayati bahwa keterpilihannya merupakan panggilan Tuhan untuk melayani GerejaNya.
  2. Hampir di setiap stasi ada pengurus terpilih  yang sama sekali tidak melakukan pelayanannya dan bahkan ke gereja pun alpa.
  3. Persentase pengurus yang tidak rajin mengikuti sermon-sermon rayon lebih besar daripada persentase pengurus yang rajin mengikuti sermon dan bahkan ada pengurus yang tidak pernah mengikuti sermon rayon.
  4. Mutu kekompakan dan kerjasama para pengurus stasi-stasi masih jauh dari yang diharapkan.
  5. Masih lumayan jumlah pengurus yang memiliki motivasi kurang murni dalam menerima dan menunaikan tugas keterpilihannya.
  6. Kesederapan langkah Dewan Pastoral Stasi, Dewan Pastoral Rayon dengan pihak Dewan Pastoral Paroki Inti pun masih belum menggembirakan.
  7. Minat para pengurus Dewan Stasi atau lingkungan terasa sangat minim dalam mengikuti pertemuan pembinaan yang ada di rayon dan di paroki.
  8. Masih cukup banyak pengurus terpilih yang belum begitu mendapat dukungan positif dari anggota keluarganya.
  9. Antusiasme positif dari umat masih sungguh minim dalam pelaksanaan pemilihan para pengurus gereja di stasi-stasi dan lingkungan.
  10. Dukungan umat pun masih terasa memprihatinkan terhadap para pengurus yang mereka pilih sendiri.
  11. Minimnya minat baik umat untuk rela menjadi pengurus Gereja.
  12. Persentase umat yang hadir dalam mengikuti Ibadat Sabda dan ekaristi sangat jauh dari yang diharapkan.

TUJUAN

Dari butir-butir keprihantinan di atas sebenarnya secara implisit sudah ada harapan-harapan ke depan sebagai tujuan dan maksud dari Sosialisasi Periodisasi yang akan laksanakan. Akan tetapi untuk lebih terang benderang adalah sangat baik jika tujuan dan harapan Sosisalisasi ini diuraikan yakni:

  1. Agar Tim Sosialisasi Periodisasi terpersiapkan dengan baik sehingga mereka memiliki materi penganimasian pemilihan pengurus yang baik dan seragam ke tengah umat di lingkungan dan stasi.
  2. Agar jadwal sosialisasi dan jadwal periodisasi jauh-jauh sebelumnya sudah diketahui umat di setiap lingkungan dan stasi.
  3. Agar secara parokial umat menyadari bahwa adalah tanggung jawab setiap umat itu sendiri untuk memilih dan mendukung para pengurus. Keralaan para pengurus untuk membantu umat sejatinya mesti disyukuri oleh umat karena para pengurus menerima tugas itu demi kepentingan umat sendiri.
  4. Agar sebelum terjadi periodisasi / pemilihan para pengurus, tersedia waktu yang cukup bagi umat untuk membicarakan baik secara keluarga maupun secara stasi dan lingkungan siapa yang lebih pantas dan bersedia menjadi pelayan di antara mereka.
  5. Untuk menghindari pelaksanaan periodisasi dadakan yang terkesan asal jadi. Jika terjadi periodisasi seperti ini, hampir dapat dipastikan bahwa para pengurus yang terpilih pun akan menjadi pengurus yang asal jadi.
  6. Agar semakin banyak dari antara umat teranimasi untuk rela menjadi pengurus.
  7. Agar hari pemilihan/ periodisasi itu menjadi hari pesta iman penuh persaudaraan di lingkungan atau di stasi.

METODE

Metode atau cara kerja sangat mempengaruhi hasil dari suatu pekerjaan yang kita lakukan. Jika baik metode / cara kerja kita, besar kemungkinan hasil pekerjaan kita pun akan memuaskan. Jika tidak, maka hasil pekerjaan kita juga akan cenderung kurang memuaskan. Kita tidak  sampai kepada  sasaran, tujuan yang kita paling harapkan. Maka untuk itu, kami menawarkan sebuah metode: Animasi Sambung Rasa.

Pertama-tama tim mesti mampu menerangkan sejelas-jelasnya apa yang menjadi keprihatinan dan harapan kita bersama. Hal itu sudah terurai di atas dalam Latar Belakang dan Tujuan dari Sosialisasi Periodisasi ini.

Jika kita memakai metode Animasi Sambung Rasa ini, maka hal yang penting lainnya harus diperhatikan ialah bahwa:

  1. Sebelum terjadi sosialisasi, sangat diandaikan bahwa Dewan Pastoral Stasi atau Lingkungan sudah mengumumkannya jauh-jauh sebelumnya sehingga jumlah kehadiran umat diharapkan optimal.
  2. Tim harus mengenal kondisi umat lingkungan atau stasi yang harus dihadapi. Bahkan harus memberi perhatian khusus terhadap masalah khusus yang ada dalam lingkungan atau stasi yang bersangkutan.
  3. Tim harus menguasai tehnik penganimasian yang benar dan menyenangkan. Dengan demikian sambung rasa sesuai dengan harapan kita yang paling baik.
  4. Tim harus menguasai hal-hal yang berkaitan dengan periodisasi sehingga mereka mampu mengantisipasi pertanyaan atau bahkan kritikan yang datang dari umat ketika sosialisasi dan periodisasi berlangsung.

Selain Animasi Sambung Rasa, sosialisasi periodisasi juga kita buat dengan secara rutin mendoakannya sebelum berkat penutup pada Perayaan Ekaristi atau Ibadat Sabda untuk setiap minggu. Untuk itu perlu difasilitasi dengan kertas selebaran berupa doa terumus.

TATA LAKSANA

Pada hari Minggu yang bersangkutan mesti diumumkan bahwa segera setelah Ekaristi atau Ibadat Sabda, maka Sosialisasi Periodisasi langsung diselenggarakan agar umat tidak langsung pulang. Tata laksana  Sosialsisasi Periodisasi sebagai berikut:

  1. Nyanyian Pembukaan
  2. Doa Pembukaan
  3. Sambutan / Pengantar : Oleh Tim Sosialisasi: Dalam pengantar dan sambutan ini, hendaknya diterangkan dengan sejelas-jelasanya Latar Belakang dan Tujuan yang sudah tertera di atas.
  4. Sambung Rasa: Dalam sambung rasa ini, harus dijaga sedemikian agar tetap suasananya penganimasian (penyemangatan dan pencerahan) diamana umat harus sadar sesadar-sadarnya bahwa adalah kewajiban mereka untuk memilih pengurus mereka sendiri dan sekaligus mendukungya. Kandidat pengurus juga harus disadarkan bahwa jika mereka dipilih umat itu merupakan sebuah panggilan dari Tuhan. Vox populi vox Dei (Suara umat adalah suara Tuhan).
  5. Pembacaan dan Keterangan Kriteria-kriteria Menjadi Pengurus.
  6. Tanya jawab tentang Kriteria Pengurus.
  7. Peneguhan dan Penyimpulan.
  8. Doa Penutup.
  9. Nyanyian Penutup.

KRITERIA PENGURUS GEREJA

Kriteria atau syarat-syarat menjadi pengurus Gereja  baiklah jika pada saat sosialisasi diterangkan dsekilas.  Akan tetapi pada hari H pemilihan / periodisasi kriteria ini mesti dibacakan dan diterangkan dengan sebaik-baiknya.

Kriteria / syarat-syarat menjadi pengurus Gereja ini terbagi dalam tiga bagian yang satu sama lain saling memperkaya. Bagian pertama bersifat anjuran dan harapan moral dan biblis. Bagian kedua berkaitan dengan bakat dan kecakapan. Sedangkan bagian ketiga bersifat aturan dan peraturan yang diramu berdasarkan Pedoman Pastoral Paroki Santo Fidelis Sigmaringen Parapat, Pedoman Pelayanan Pastoral Keuskupan Agung Medan (P3KAM) dan Anggaran Dasar Paroki Keuskupan Agung Medan.

Kriteria Bersifat Moral dan Biblis:

  1. Pengurus Gereja adalah Gembala: Bercermin kepada Yesus Gebala Yang Baik (Yohanes 10: 11-15)
  2. Pengurus Gereja adalah Hamba dan Pelayan (Mateus 20 : 27-28)
  3. Pengurus Gereja Memiliki Moralitas dan Hidup Rohani Yang baik (Timoteus 3: 1-13)

Kriteria Berkaitan dengan Bakat dan Kecakapan:

  1. Terampil berkomunikasi. Keterampilan berkomunikasi tak lain adalah keterampilan pengurus dalam memahami keinginan umat dan kecakapan untuk menyampaikan pesan-pesan Gereja kepada umat. Keterampilan berkomunikasi menggambarkan bagaimana kepiawaiannya dalam menjembatani komunikasi antara umat dan hirarki atau dewan pastoral di atasnya. Keterampilan berkomunikasi juga merupakan kecakapan untuk membina hubungan harmonis dengan lingkungan sekitar: gereja tetangga, adat istiadat dan pemerintah setempat.
  2. Cakap Berorganisasi: Selain mengelola aktivitas yang sifatnya rohani, pengurus juga mengelola administrasi. Karena administrasi ini merupakan pekerjaan yang kelihatan, maka penilaian terhadap keberhasilan menjadi pengurus Gereja gampang dilacak melalui tugas-tugas administrasi ini.
  3. Mampu membagi dan menerima tugas / mampu memberi dan menerima delegasi.
  4. Mempunyai talenta untuk mempersatukan dan menjadi juru damai.

Kriteria Bersifat Aturan dan Peraturan:

  1. Sudah minimal 5 tahun menjadi umat katolik yang sah.
  2. Sudah minimal 6 bulan menjadi umat lingkungan atau stasi yang sah.
  3. Berdomisili secara resmi di lingkungan atau stasi yang bersangkutan.
  4. Perkawinanya tidak bermasalah seturut hukum kanonik.
  5. Umurnya tidak kurang dari 23 tahun dan tidak lebih dari 60 tahun.
  6. Mampu baca-tulis.
  7. Bersedia mengikuti kursus-kursus dan sermon-sermon.
  8. Boleh masih ditambahi atau lebih disempurnakan.

PENUTUP

Kita cukup yakin bahwa jika Sosialisasi ini berjalan dengan baik, maka akan muncullah para pengurus Gereja yang lebih baik bukan hanya dari segi jumlah tetapi terlebih dari segi mutunya.  Untuk itu tim sosialisasi harus sungguh dibekali dan membekali diri sebaik mungkin. Demikianlah kita menerjemahkan “pengkodisian periodisasi” sebagaimana dikatakan dalam Pedoman Pelayanan Pastoral Keuskupan Agung Medan (P3KAM) dan Anggaran Dasar Paroki Keuskupan Agung Medan. Semoga Tuhan memberkati usaha kita ini.

Parapat, 07 Agustus 2016

Salam

RP.Hiasintus Sinaga, OFMCap. (Parokus).

Serah Terima DPP dari Pak Ramsion Barutu kepada Bapak Dionisius Sibarani (2014-2017 ke periode 2017-2022)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *