Profil Paroki

                                    PENDAHULUAN

1. Letak Geografis Paroki

Paroki St. Fidelis Sigmaringen Parapat adalah suatu bagian pelayanan pastoral parokial di wilayah Keuskupan Agung Medan. Paroki ini berpusat di kota Parapat, sebuah kota kecil yang terletak pada wilayah Kecamatan Girsang Sipangan Bolon daerah Kabupaten Simalungun yang berbatasan dengan daerah Kabupaten Tobasa dan Kabupaten Samosir. Kota Parapat terbentang pada garis pantai Danau Toba sepanjang 2,5 km. Kota ini menjadi pintu gerbang daerah tujuan wisata Danau Toba, yang banyak dikunjungi turis domestik maupun turis mancanegara. Pelayanan pastoral Paroki Parapat berbatasan dengan wilayah pelayanan pastoral dari 4 paroki sekitarnya:

a. Sebelah Utara    : Paroki St. Antonius dari Padua, Tiga Dolok.
b. Sebelah Barat    : Paroki St. Antonio Maria Claret, Tomok
c.  Sebelah Selatan    : Paroki St. Paulus, Onan Runggu
d. Sebelah Timur    : Paroki St. Yosef, Balige

Kantor Paroki Parapat bertempat di Jl. Merdeka No. 53 A, Parapat, kompleks PPU Parapat. Informasi tentang paroki bisa dihubungi melalui: Facebook: Paroki Parapat; Telepon: 0625-41932; Fax 0625-41932; Email : parokiparapat@ymail.com.
Kantor Paroki Parapat bertempat di Jl. Merdeka No. 53 A, Parapat, kompleks PPU Parapat.

Informasi tentang paroki bisa dihubungi melalui: Facebook: Paroki Parapat; Telepon: 0625-41932; Fax 0625-41932; Email : parokiparapat@ymail.com.

2.    Peta Wilayah Pelayanan

Wilayah pelayanan Gereja Katolik Paroki Parapat terdiri dari 20 stasi yang tersebar di dua kabupaten. Sebagian daerah Kabupaten Simalungun: mencakup wilayah Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, sebagian wilayah kecamatan Dolok Panribuan dan sebagian kecamatan Pamatang Sidamanik; dan di Kabupaten Tobasa: mencakup wilayah Kecamatan Ajibata dan sebagian wilayah Kecamatan Lumbanjulu.

Peta Pelayanan
Peta Pelayanan

 

3.   Motto Paroki dan Spiritualitasnya

Dengan senang hati saya mengabulkan permintaan Panitia Yubileum Paroki St.Fidelis Sigmaringen Parapat, untuk menuliskan secara singkat apa yang menjadi spiritualitas motto Paroki ini, yakni: “Teratur, Mandiri dan Berkembang”. Motto Paroki ini dikumandangkan pada tanggal 02 Agustus 2009, sejak saya diberi tanggungjawab menjadi Parochus di Paroki ini. Motto singkat ini, menggambarkan motivasi, semangat dan tujuan serta komitmen kami, bersama pengurus gereja dan umat seluruhnya untuk memajukan Paroki ini.

3.1. Latar Belakang

Kami sangat yakin bahwa pelayanan pastoral di Paroki ini, haruslah didasari oleh visi dan misi yang jelas, agar kekuatan, kelemahan, peluang-peluang dan perjuangan serta rencana strategi dapat terpadu dan terarah. Kejelasan visi dan misi, juga akan menolong semua pihak terkait untuk memberikan kontribusinya dalam memajukan Paroki ini. Visi Paroki ini ialah: “Menjadi Paroki teladan di segala bidang”. Misinya ialah mengajak umat agar menjadi umat yang patuh pada aturan gereja, mandiri dalam pengungkapan iman dan berkembang dalam mewujudkan imanya sesuai dengan tanda-tanda zamanya. Visi dan misi ini dikemas dalam motto paroki, yakni paroki: “Teratur, Mandiri dan Berkembang”. Motto ini tidak dikutip langsung dari Injil, tetapi isi dan tujuannya mengungkapkan pesan Injili: “mendirikan rumah di atas batu, kokoh tak tergoyangkan” (bdk. Mat 7:24-25)

3.2. Tiga Untaian Kata Tak Terpisahkan

Motto ini tidak disampaikan dalam satu kalimat, tetapi dipadatkan dalam tiga untaian kata sifat: “Teratur, Mandiri dan Berkembang”. Ke tiga kata ini diurutkan menurut urutan pelaksanaannya, kendati satu lain tidak terpisahkan satu sama lain. Dalam keteraturan ada kemandirian dan perkembangan dan sebaliknya. Dalam kemandirian, aturan ditegakkan, perkembangan diimpikan. Dalam perkembangan, kemandirian dipertahankan, aturan disempurnakan. Tidak ada kemandirian tanpa keteraturan. Tidak ada keteraturan tanpa sikap ingin mandiri dan berkembang. Dalam perjalanan waktu, tidaklah dimaksudkan melaksanakannya yang satu sesudah yang lain. Ketiganya kait mengait, hadir dan berjalan bersama.

Aksi harus dimulai dari keteraturan. Aturan yang resmi dan jelas, akan menolong semua pihak untuk mandiri. Sadar dan loyal pada aturan tanpa keterpaksaan, adalah sikap orang yang mau mandiri. Bila aturan berjalan 65 % saja, maka kemandirian akan bergulir dengan sendirinya.

Ibarat pribadi, seseorang yang mandiri tidak akan puas pada status quo-nya dan tetap tergantung pada pihak lain. Orang mandiri akan mencari otonomi diri, menggali kemampuannya dan memaksimalkan usahanya, mencari status quem. Maka, orang mandiri itu akan sendirinya berkembang.

Ibarat bunga, orang mandiri akan berkembang di saat terik matahari datang menerpa, berkilau di saat air hujan membasahinya, menyerbuk di saat kumbang menghinggapinya, gembira di saat orang memetiknya, menyesuaikan diri di saat orang meletakannya di vas bunga. Dalam kemandirian, toleransi dan adaptasi berkembang subur, ambisi dan niat mengkristal menjadi energi tak terbatas, tantangan dan rintangan menjadi batu loncatan.

3.3. Wujud Motto Dalam Kehidupan Menggereja

Motto ini adalah milik paroki St.Fidelis Sigmaringen Parapat. Setiap orang diajak untuk merasa memilikinya. Tugas mewujudkan motto ini, ada di tangan Pastor, Pengurus Gereja dan semua umat. Semuanya mencita-citakan agar Paroki ini menjadi paroki yang teratur, mandiri dan berkembang. Mengapa?

Motto Pertama: Teratur. Gereja Katolik memang dikenal sangat teratur dibawah pimpinan seorang Paus. Aturannya jelas, sama untuk semua, berlaku di seluruh dunia, punya sanksi yang jelas. Pandangan kami, menjadi orang katolik itu haruslah patuh pada aturan, mau diatur, tidak suka-suka, harus berusaha mengikuti aturan umum katolik di seluruh dunia. Pada awal misi, banyak aturan tidak diterapkan pada gereja muda dengan banyak dispensasi karena begitulah seharusnya strategi penyebaran agama. Menurut saya, pada umur 80 tahun berdirinya gereja katolik di paroki ini, pantaslah kita secara bertahap mengikuti aturan yang berlaku, dengan penyesuaian dan ulur mengulur disana sini sesuai dengan kebijakan pastoral. Menurut kami kesiapan dan komitmen untuk menjadi gereja yang teratur ini sedang bertumbuh dan bertunas di paroki kita.

Motto Kedua: Mandiri. Kami yakin bahwa dalam keteraturanlah bertumbuh kemandirian, karena keteraturan sendiri adalah bagian dari kemandirian. Diyakini bahwa kalau setiap orang kristen, tiap rumatangga, tiap stasi di paroki ini mandiri mengurusi iman dan kehidupan menggerejanya, maka pasti paroki ini akan sampai ke misinya sebagai paroki teladan. Kemandirian dalam segala bidang telah diperjuangkan dari hari ke hari. Mentalitas lama harus diubah dari sikap diurusi ke sikap mau mengurusi. Penilaian kami, mata umat di paroki mulai terbuka, usaha mulai nampak untuk mewujudkan gereja yang mandiri baik di bidang pembangunan rohani dan pembangunan physik gereja.

Motto Ketiga:Berkembang. Gereja yang hidup harus berkembang dari ke hari mengikuti perkembangan zaman. Umat diajak supaya tidak hanya bangga akan masa lalu, akan jasa misionaris dulu, tetapi haruslah berambisi positip menggapai kemajuan dan perkembangan baru yang menantang di depan sana. Umat diajak untuk menatap bahwa yang lebih indah ada di depan bukan di belakang. Penilaian kami, stasi dan kumpulan PAK. PIK, MUDIKA dan Asmika mulai berlomba mengembangkan dirinya, bersaing sehat dengan stasi lainnya.

Motto ini dijalankan dalam reksa pastoral paroki ini, lewat pembinaan-pembinaan, kursus, sermon, pesta-pesta, retret, katekese; juga lewat pelayanan sakramen-sakramen, penataan administrasi yang teratur, pengelolaan keuangan yang transparan (jelas), akkuntabilitas (perhitungan yang jelas), kredibilitas (dapat dipercaya).

Demikianlah ke tiga motto ini hendaknya diupayakan bersama dalam penggembalaan umat. Kami yakin bahwa gereja yang teratur akan menggampangkan kemandirian, kemandirian akan sendirinya melahirkan perkembangan.
Motto ini telah diperjuangkan selama masa jabatan kami, tiga tahun tiga bulan. Pengamatan kami ialah bahwa pada umumnya umat di paroki ini tengah menjalankan motto ini, walaupun masih ada stasi dan umat yang belum siap mewujudkan program ini. Disadari bahwa menerima perubahan tidaklah gampang, khususnya bagi stasi dan umat yang masih melihat gereja ini sebagai gereja zaman misionaris dulu. Kami merasa bahwa dasar dan arah paroki ini telah diletakkan. Bagaimana selanjutnya tergantung dari penerus, pengurus dan umat seluruhnya. Selamat Pesta Yubileum 80 tahun.

4.  Susunan Pengurus Dewan Pastoral Paroki Masa Bakti 2012 – 2017

Ketua Umum           : RP. Christian Lumban Gaol, OFMCap (2012-2015)
: RP. Hiasintus Sinaga, OFMCap (2015-2017)
Ketua Pelaksana I   : Ramsion Barutu
Ketua Pelaksana II  : Panahatan Nababan
Sekretaris I               : Rafael Simatupang, S.Fil
Sekretaris II              : Bilman A. Silalahi
Bendahara I             : Marhat H. Sinaga
Bendahara II            : Sr. Hilarya Sinaga, KYM
Anggota                    : Robertus Manik; Marasal Manurung; Albiner Sinaga; Dionisisus B. Sibarani, ST.MT   dan semua Dewan Rayon

Seksi Katekese: Demson Efendi Sinaga (Girsang) -Ketua; Sohot Sinaga (Sipanganbolon); Janner Siadari (Sipolha);Carlos Sirait (Ajibata). Seksi Kitab Suci: Bintang Manik (Girsang) – Ketua; Pinayungan Munthe (Sigapiton); Baren Nadapdap (Lumbanpea); Rudi Manik (Sipolha). Seksi Liturgi: Joden Sinaga (Girsang) – Ketua, Marice Manik (Lumbanpea); Lamberta Manik (Pulopulo), Ronna Siallagan (Parapat), Seksi Keluarga: Pardomuan Butar-butar (Onansampang) – Ketua, Nurhaida Tindaon (Parapat) ; Faber Sitanggang (Onan Sampang), Mesdiana Sidabutar (Repasileutu); Jander Silitonga (Motung)  Seksi Guru Agama: Nurliana Sinaga (Pondokbulu), Lasma Sirait (Aeknatolu).  Seksi Asmika: Lasma Siallagan (Parapat)-Ketua; Yentina Sirait (Sipanganbolon); Tiarma Samosir (Pondokbulu); Sunarti Situmorang (Horsik). Seksi Kepemudaan: A.Pargogo Manurung (Parapat), Jhonson Manik (Ajibata), Riston Efendy Sinaga (Parapat), Olopan Situmorang(Parapat), Magel Sinaga (Girsang), Marimbun Manik (Aeknatolu), Forest Frans Sinaga (Repasileutu) Seksi PAK: Jisman Sinaga (Parapat), Henri Sinaga (Sipangan Bolon), Liberti Tambunan (Repasileutu), Tigor Manurung (Sigapiton) Seksi PIK: Dermawan br Sirait (Motung) – Ketua, Rumondang Silitonga (Pondokbulu), Basaria Simbolon (Sipanganbolon), Erna Sinaga (Parapat),Hotna Samosir (Parapat); Seksi PSE: Guntur Kaperius Manurung (Motung) Koordinator Umum, Darwin Sinaga (Motung) – Anggota ; KBG: Marno Bakara (Parapat), Jannes Sidabutar (Motung), Pendi Sinaga (Sipanganbolon) ; Pendidikan: Sopia Butar-butar (Sipanganbolon), Rohani Sinurat (Lumbanpea); Kesehatan:Erna Harianja (Sipanganbolon), Lenny Nainggolan (Parapat); Pembangunan: Parno Butar-butar (Pulopulo) Ketua, Japun Damanik (Sipolha),Samsudin Samosir (Dlk Parmonangan), Pangihutan Pandingan (Parapat); APP: Warleston Sinurat (Lumbanpea), Urbanus Nainggolan (Parapat); Luhut Bakara (Parapat); Marno Bakkara(Parapat); Hubungan Antarkepercayaan: Tandol Tampubolon (Lumbanpea), Darmadodi Silalahi (Girsang).

SUSUNAN DEWAN PASTORAL MASA BAKTI 2017-2022

Ketua Umum  :  RP. Hiasintus Sinaga, OFMCap; Pelaksana 1    :  Dionisius B Sibarani; Pelaksana 2    :  Ramsion Barutu; Sekretaris 1    :  Rafael Simatupang; Sekretaris 2    :  Parno Butarbutar; Bendahara 1  : Olopan Situmorang; Bendahara 2  :  Sr. Monika Manurung, KYM

Anggota:

  1. Tetty Sirait; (2) Surdin Sinaga; (3) Basaria Simbolon; (4) Urbanus Nainggolan; (5) Marhat Sinaga; (6) Guntur K Manurung; (7) Marasal Manurung; (8) Japun Damanik

 

                   SEJARAH BERDIRINYA PAROKI

1. Awal Misi Gereja Katolik di Tanah Batak

1.1. Misi Gereja Katolik Mengarah ke Tanah Batak

Misi Gereja Katolik memasuki daerah “Tano Batak” (Tanah Batak), Tapanuli, sudah lama diimpikan oleh para missionaris Gereja Katolik. Pemikiran itu muncul sangat dilatarbelakangi oleh besarnya minat orang Batak sendiri yang sejak tahun 1922 meminta kehadiran Misi Katolik. Beberapa tokoh orang Batak menulis surat permohonan kepada pemimpin Gereja Katolik yang berpusat di Padang. Sejak tahun 1911, Padang dijadikan sebagai Prefektur Apostolik, yakni Prefektur Apostolik Sumatra. Karya misi sejak itu diserahkan oleh Serikat SJ kepada Ordo Kapusin dan Mgr. Liberatus Cluts, OFMCap., diangkat menjadi pemimpin karya misi.

Atas permintaan tersebut, pemimpin misi Gereja membulatkan hati untuk mengarahkan karya misi ke daerah Tano Batak. Akan tetapi, hal itu tidak segera terwujud karena berbenturan dengan peraturan pemerintah Belanda yang melarang adanya misi ganda antara Katolik dan Protestan di suatu daerah. Nyatanya, karya zending Protestan di kalangan orang Batak Toba sudah dimulai sejak tahun 1860. Oleh karena itu pemimpin Gereja Katolik, Mgr. Matias Brans, OFMCap., berusaha meminta ijin dari pemerintah Belanda untuk masuk ke daerah Tapanuli mengingat bahwa masih banyak di daerah Tapanuli yang belum menjadi Kristen.

Sementara menunggu ijin tersebut, Gereja Katolik sudah mulai berkontak dengan orang Batak di daerah Medan, Sibolga dan Pematangsiantar. Misi Gereja Katolik sebenarnya sudah mulai di Medan sejak tahun 1878 oleh anggota Serikat SJ, yaitu P. Wennecker, SJ., yang mengunjungi Medan secara berkala. Akan tetapi misi menjadi lebih efektif sejak tahun 1912 ketika dua orang missionaris Kapusin ditempatkan di Medan. Selanjutnya misi masuk ke daerah Sibolga pada tahun 1923 oleh P. Marinus Spinjers, OFMCap., dan ke daerah Laras (Pematangsiantar) pada tahun 1931 oleh P. Aurelius Kerkers, OFMCap.

Pada tahun 1933, Mgr. Brans menerima kabar gembira bahwa pemerintah Belanda mengijinkan Gereja Katolik masuk ke Tanah Batak. Ijin itu diterbitkan sangat dilatarbelakangi juga oleh semakin banyaknya desakan orang Batak kepada Pemerintah Belanda agar Gereja Katolik diijinkan masuk ke daerah mereka. Momen tersebut tidak disiasiakan oleh karya misi. Dengan segera, Mgr. Brans mengutus para missionaris pergi ke segala penjuru Tanah Batak dengan pesan: “Pergilah, carilah kontak dengan masyarakat, entah waktu siang atau pun waktu malam”.

Dengan ijin yang ada, para missionaris menjalankan tugas dengan semangat dan tanpa kenal lelah. Dan, dalam waktu yang relatif singkat, Gereja Katolik sudah memasuki daerah-daerah yang kemudian menjadi paroki-paroki penting yakni: Balige (1934), Sawah Dua (1934), Simbolon, Palipi, Pulo Samosir (1936), Lintong Nihuta (1937), Pematangsiantar (1938), Saribudolok (1938), Sidikalang (1938), Onanrunggu (1939), Pangururan (1942) dan Pakkat (1942). Dengan demikian, dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, Misi Gereja Katolik sudah tersebar luas ke berbagai daerah bukan hanya di Tapanuli tetapi juga di daerah Simalungun.

1.2. Misi Gereja Katolik Sampai ke Balige

Misi Katolik di daerah Toba dimulai dengan kedatangan P. Sybrandus van Rossum, OFMCap., di kota Balige. Tugas penempatannya di Balige sebenarnya sudah diterbitkan pada tgl. 13 Maret 1934. Tetapi, karena masih terikat beberapa tugas di Medan, beliau baru mengunjungi Balige pada bulan September untuk memperkenalkan Gereja Katolik. Tidak lama kemudian, beliau berhasil mengontrak rumah kecil di tepi Danau Toba pada tgl. 01 Oktober 1934. Akhirnya, secara permanen, P. Sybrandus tinggal di Balige sejak tgl. 05 Desember 1934.

Pada awalnya, kehadiran P. Sybrandus memperoleh kesulitan dan hambatan dari pemerintah kolonial Belanda. Hambatan lain beliau alami juga dari sebagian rakyat yang mendiami daerah Toba, Humbang dan Rura Silindung. Akan tetapi, beliau memiliki hati yang penuh cinta kasih dan tetap optimis untuk menyebarkan misi Katolik di wilayah Tapanuli.

Sebagai langkah awal, P. Sybrandus mempelajari dan menguasai bahasa Batak Toba, sehingga beliau dapat berdialog dengan warga yang dijumpainya di jalan-jalan dan di “lapo-lapo” (kedai-kedai). Selain pelayanan rohani, Pastor juga memperhatikan kesehatan masyarakata, mengusahakan pendidikan, dan bantuan-bantuan sosial kepada masyarakat. Dengan metode tersebut, perlahan-lahan beliau mendapat rasa simpati dari warga setempat. Beliau melayani kerohanian umat dan berkarya untuk menyebarkan ajaran dan misi Katolik dari kota Balige sampai ke Porsea, Lumban Julu, Sibisa, dan ke beberapa tempat sekitarnya.

2.  Awal Misi Gereja Katolik di Wialayah Paroki Parapat

Daerah Parapat dan sekitarnya tidak ketinggalan menjadi sasaran Misi yang di kemudian hari menjadi Paroki Parapat. Pembentukan paroki ini boleh disebut dibangun dari tiga arah: Pematangsiantar, Balige, dan Samosir. Hal itu terjadi karena kondisi daerah Paroki Parapat yang tergolong unik. Peristiwa tersebut akan dilukiskan secara ringkas berikut ini.

2.1. Misi dari Arah Pematangsiantar

Masuknya karya misi Gereja Katolik ke daerah Paroki Parapat terjadi pada awal tahun 1934 dengan kehadiran P. Aurelius Kerkers, OFMCap. Stasi yang pertama dibentuk adalah Stasi Girsang dan Stasi Sualan pada tahun 1934. Pada tahun tersebut, gereja darurat sudah didirikan di Girsang dan di Sualan. Pendirian gereja Stasi Girsang dapat terlaksana setelah Pastor berkomunikasi dengan Bpk. Anggarajim Sinaga, yang juga tertarik masuk menjadi Katolik.

Satu tahun kemudian, tahun 1935, gereja Stasi Girsang sudah dibangun setengah permanen atas kerjasama dari P. Aurelius, P. Ansfridus Liefrink, OFMCap, dan P. Sybrandus. Pada saat itu, rumah pastor (pastoran) juga sudah dibangun di samping gereja Stasi Girsang. Para misionaris tersebut datang mengunjungi umat secara berkala dan bermalam di stasi ini, termasuk juga P. Diego van den Biggelaar, OFMCap., sebelum beliau ditempatkan di Balige dan seterusnya membuka misi ke Simbolon, Pulau Samosir. Selain para misionaris, Bpk. Kenan Hutabarat, seorang katekis dari Pematangsiantar, datang juga mengunjungi dan mengajari umat stasi.

Dalam tahun yang hampir bersamaan, para missionaris tersebut juga sudah mengunjungi Ajibata. Beberapa umat cukup antusias menjadi Katolik. Pada tahun-tahun awal itu umat dari daerah Ajibata masih beribadat bersama dengan umat di Stasi Girsang. Lambat laun mereka beribadat di rumah umat di daerah Sijambur sejak tahun 1938. Tahun itulah dijadikan sebagai tahun berdirinya Stasi Ajibata. Seterusnya, umat Stasi Ajibata mendirikan gereja darurat pada thn.1966 yang direhab secara bertahap dan akhirnya menjadi gereja permanen.

Selanjutnya, dari Girsang, Bpk. Kenan Hutabarat perlahan-lahan memperkenalkan Gereja Katolik di kota Parapat. Tekanan berat dialami oleh Gereja Katolik pada saat itu terutama dari pihak Gereja HKBP yang sudah berdiri kota Parapat. Atas dukungan P. Aurelius, sekitar tahun 1938, Bpk. Kenan berhasil membeli rumah kecil di daerah Dolok Pangulu, Jl. Sirikki (di sekitar Wisma Biara Kapusin sekarang). Rumah itu dikenal juga dengan nama “rumah ijuk”. Perlahan-lahan Bpk. Kenan memperkenalkan Gereja Katolik. Akan tetapi, misi lebih intensif di kota ini dilaksanakan, sesudah Kemerdekaan Republik Indonesia (pada tahun 1948), oleh usaha P. Diego dan Bpk. Kenan.

2.2. Misi dari Arah Balige

Masuknya Gereja Katolik di Sibisa, satu stasi Paroki Parapat sekarang, diperkenalkan oleh Bpk. Johannes Nadapdap. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1934. Awalnya, Bpk. Johannes tinggal di desa Sibuntuon Porsea, di mana beliau mengenal ajaran agama Katolik dari P. Sybrandus van Rossum, OFMCap. Kemudian beliau pulang ke kampung halamannya di desa Sosor Pea, Sibisa, dan memperkenalkan ajaran Katolik kepada keluarganya yang menganut aliran kepercayaan “parmalim”. Keluarganya menerima dengan baik serta mempunyai keinginan menjadi orang Katolik. Bahkan, Bpk. Johannes Nadapdap bersama dengan keluarga berkeinginan kuat agar gereja Katolik berdiri di desa Sosor Pea, Sibisa. Untuk merealisasikan hasrat tersebut Bpk. Johannes Nadapdap bersama seorang utusan keluarganya pergi menghadap P. Sybrandus di Balige. Permohonan mereka itu ditanggapi dengan baik oleh P. Sybrandus. Demikian, Pastor tersebut mengunjungi umat di Sibisa serta melakukan persiapan untuk pembangunan gereja.

Pada tahun 1935 berdiri gedung gereja Katolik bersifat darurat di desa Sosor Pea Sibisa. Kondisi gereja pada saat itu berlantai tanah, tiang bambu, dinding nipah, atap ilalang. Pada masa awal ini sudah ada umat 10 KK. Dalam perkembangan selanjutnya pada tahun 1936 jumlah umat bertambah menjadi 40 KK. Sejak saat itu P. Sybrandus sering mengadakan kunjungan pastoral untuk melayani kerohanian umat dengan menggunakan kenderaan “motorpit” (sepeda motor). Melihat kondisi perkembangan umat di desa Sibisa, P. Sybrandus bersama para umat sepakat mendirikan Gereja yang lebih besar untuk dapat menampung umat yang terus bertambah. Gereja tersebut selesai sekitar tahun 1938 terbuat dari papan, berlantai papan, tiang kayu dan beratap seng (gereja panggung) dengan ukuran 6 kali 12 meter.

Pada tahun-tahun berikutnya misi Katolik memasuki daerah lain. Stasi-stasi yang didirikan pada tahun selanjutnya adalah: Stasi Sirungkungon (thn. 1939) dan Stasi Aek Natolu (1939). Kisah tentang stasi-stasi ini dapat dibaca pada tampilan profil tiap stasi pada bab berikut.

2.3.  Misi dari Arah Samosir

Dari catatan sejarah di atas, kita dapat melihat bahwa pelayanan umat di wilayah yang sekarang masuk Paroki Parapat Paroki dilayani dari dua paroki: Paroki St. Laurensius Pematangsiantar dan Paroki St. Yosef Balige. Akan tetapi, sesudah Paroki Onan Runggu dan Samosir dibuka oleh P. Beatus Jennisken, OFMCap, pada tahun 1939, Stasi Sirungkungon dan Stasi Sigapiton (didirikan thn. 1950) dilayani dari Paroki Onanrunggu.

3. Masa-masa sulit

Misi Katolik menghadapi kesulitan dan hambatan yang diakibatkan beberapa peristiwa dalam catatan sejarah dunia dan sejarah bangsa Indonesia. Pada tahun 1942 pasukan Jepang masuk ke Indonesia dan mendesak kolonial Belanda meninggalkan tanah air. Pada waktu masa pendudukan Jepang (thn. 1942-1945), pelayanan kerohanian umat mengalami kesulitan. Kekuasaan tentara Jepang semakin kejam, tempat-tempat ibadah seperti gereja Protestan dijadikan sebagai kandang kuda, sementara “rumah ijuk” yang dikenal warga pada waktu itu sebagai gereja Roma Katolik (RK) dijadikan asrama tentara. Hal yang sama juga dilakukan di gereja-gereja di stasi-stasi.

Kesulitan misi ini semakin diperparah karena para Pastor yang bertugas tidak diijinkan untuk melaksanakan karya pastoralnya karena ditawan dan dipenjarakan. Praktisnya, kehidupan dan perkembangan iman umat tidak berjalan. Memang di sana-sini masih berjalan kegiatan kerohanian umat yang dipimpin oleh katekis secara sangat terbatas.

Berita suka cita tentang kemerdekaan Republik Indonesia melalui Proklamasi Kemerdekan pada tgl. 17 Agustus 1945 sangat disyukuri. Akan tetapi, di balik sukacita tersebut kondisi politik masih terasa tidak kondusif untuk melaksanakan karya misi. Kesulitan lain yang terjadi adalah peristiwa Agresi Militer Pertama pada tgl. 21 Juli 1947 yang dilakukan Belanda atas bangsa Indonesia. Hal ini sangat mempengaruhi perjalanan misi Gereja. Untuk mengatasi kesulitan itu, dua orang imam didatangkan dari Pulau Jawa mengunjungi umat di daerah Tapanuli.

Akibat dari peristiwa–peristiwa di atas masyarat Parapat mengalami dampak yang sangat memprihatinkan. Sebagian besar penduduk memenuhi kebutuhan pangannya dengan memakan ubi kayu dan jagung sebagai pengganti nasi. Karena situasi tersebut, banyak umat meninggalkan gereja dan kembali menganut aliran kepercayaan kekafiran (sipelebegu).

Perjanjian Renville, tgl. 17 Januari 1948, membuat kondisi politik dan keamanan lebih stabil. Namun demikian dengan ditetapkan garis “demarkasi” antara Parapat dan Ajibata mengakibatkan kesulitan tertentu bagi masyarakat. Ketika itu, wilayah Parapat – Tigaraja masuk daerah kekuasaan Belanda sementara wilayah Ajibata masuk daerah Republik. Akibatnya, penduduk dari kedua daerah ini tidak diperbolehkan melintas melewati batas garis demarkasi. Penetapan dan pelarangan ini menyulitkan pelayanan kerohanian terhadap umat dan menghambat misi gereja.

Melihat kondisi seperti ini, P. Diego, sesudah masa penahanan tentara Jepang, mengambil inisiatif untuk menyebarkan misi Katolik secara lebih intensif di kota Parapat. Selepas masa penahanan itu, beliau mengunjungi Stasi Girsang, yang masih satu wilayah dengan Parapat di bawah kekuasaan Belanda. Dengan kegigihan dan keuletan, beliau dibantu oleh Bpk. Kenan Hutabarat. Pada tahun 1948, mereka berhasil membeli tanah pertapakan untuk Gereja yang terletak di daerah Lumban Gambiri, tepatnya Jl. Merdeka (lokasi PPU sekarang), dari Op. Gokman Sinaga, Op. Tunggul Sinaga dan Padang Sinaga. Dana pembeliannya diperoleh dari P. Aurelius. Namun demikian, P. Diego kurang setuju dengan lokasi tanah tersebut sebagai lokasi gereja karena kondisi tanah tidak rata. Kemudian, beliau meminta Bpk. Kenan kembali mencari tanah yang lebih cocok dan lokasi yang didapat adalah tanah di lokasi “rumah ijuk” di sekitar Dolok Pangulu (Jl. Sirikki Parapat, dekat wisma Biara Kapusin sekarang).Tempat itu, sebelumnya, sudah ditempati Bpk. Kenan.

Bangunan yang ada di lokasi tanah tersebut berukuran 6 x 7 meter dengan nama “Rumah Ijuk” karena atapnya terbuat dari ijuk pohon aren. Rumah ijuk tersebut difungsikan sebagai gereja darurat dan digunakan lebih kurang 3 tahun untuk kegiatan rohani dan perayaan liturgi yang dilayani P. Diego. Ketika itu jumlah umat sudah ada sebanyak 10 KK. Pelayanan kerohanian umat yang dilayani oleh P. Diego semakin berkembang, mengakibatkan pertambahan jumlah umat meningkat mencapai 60 kk pada tahun 1952. Rumah ijuk pernah direnovasi untuk mengganti atap ijuk yang terbakar menjadi atap seng.

4. Paroki Parapat Berdiri Definitif

Cikal-bakal pendirian Paroki Parapat yang definitif dimulai lebih serius oleh P. Beatus Jennisken, OFMCap. Beliau memulai misi itu sejak thn. 1952. Beliau bercita-cita bahwa misi Katolik harus berdiri kokoh di kota Parapat. Misi tersebut tidak dapat segera terwujud karena mengalami kesulitan dari zending Protestan. Mereka masih terpaku pada peraturan pemerintah Belanda yang tidak mengijinkan terjadinya pewartaan ganda (Protestan dan Katolik) di suatu daerah. Walaupun peraturan itu sudah dicabut oleh pemerintah Belanda pada thn. 1933. Atas kesulitan tersebut, P. Jennisken memulai misi dan mendirikan rumah di daerah Tomok Siholing, Pulau Samosir, pada thn. 1952. Dari sana, beliau dengan semangat melaksanakan karya misi juga ke Parapat dan mendirikan beberapa stasi di daerah Parapat dan daerah Samosir.

Dengan pasti, P. Jennisken mendirikan stasi Parapat secara resmi pada tgl. 5 Sep-tember 1952. Untuk tujuan tersebut, beliau menghidupkan kembali Stasi Sualan yang sudah lama terlantar. Perlahan-lahan, pada tgl. 23 Desember 1953, beliau berhasil membeli sebidang tanah dan puing-puing bungalow “Neopus”, milik Tuan Bartels yang sudah tinggal di Belanda. Pastor Jennisken dan Br. Ancharius Rentink, OFMCap., memulai renovasi rumah tersebut sehingga P. Jennisken sudah menempatinya sejak tgl. 22 Juni 1954.

Pada tahun yang sama, P. Jennisken berhasil membeli petapakan sekitar rumah tersebut sebanyak 2 tahap, yakni pada tgl. 09 Agustus 1954 dan tgl. 30 Agustus 1954. Perayaan pendirian Gereja Katolik yang baru untuk umat Parapat dilaksanakan pada tgl. 05 September 1954. Perayaan tersebut dipimpin oleh Superior Regularis, P. Ferrerius v.d. Huurk, OFMCap. dan didampingi oleh P. Beatus Jennisken, OFMCap. Umat dari Girsang, Ajibata, Motung, serta Onanrunggu ikut serta dalam pesta gembira tersebut. Ketua Dewan Stasi pada waktu itu adalah Bapak Pain Petrus Sinaga (A. Flora).

Sesudah perayaan pendirian gereja tersebut, P. Jennisken mulai menggagasi pembangunan gereja permanen. Keluarga P. Jennisken sangat banyak membantu biaya pembangunan. Dalam proses pembangunan itu, umat berperan aktif seperti bergotong-royong dan memberikan sumbangan berupa pasir dan batu padas sebanyak 2 truck/kk. Pembangunan itu mulai terlaksana pada tgl. 17 Oktober 1955.

Seiring dengan berdirinya Gereja Parapat, P. Jennisken memindahkan kedudukan Paroki dari Tomok ke Parapat pada tgl. 01 April 1955. Keputusan itu dilihat sangat positif. Pelayanan pastoral dapat berjalan lebih mantap karena didukung fasilitas alat dan jalur transportasi yang lebih memadai.

Sementara itu, pada tgl. 14 Februari 1955, P. Jennisken masih membeli tanah karena lahan yang ada dirasa masih kurang luas. Pertapakan itu adalah milik T. H. Monsma, seorang Belanda, yang memiliki bunglow kecil bernama “Huize Tersted”.
Dalam perkembangan selanjutnya, gereja yang baru dibangun itu menjadi Gereja Katolik Biara Kapusin dan sekaligus berfungsi sebagai gereja Stasi Parapat. Peristiwa itu terjadi pada tgl. 02 Januari 1956, ketika P. Marianaus v.d. Acker, OFMCap., menjadi Supe-rior Regularis Ordo Kapusin Medan. Beliau menegaskan bahwa komunitas di Parapat bukan lagi Pastoran Katolik Parapat melainkan Biara Kapusin Parapat.

Dalam tahun yang bersamaan, dibangun juga gedung seminari untuk Novisiat Biara Kapusin serta gedung untuk pendidikan Filsafat dan Teologi bagi para calon imam masa yang akan datang. Pembangunan semua unit tersebut selesai pada tahun 1958.

5. Masa Perkembangan Menuju Masa Depan

5.1 Kerja Keras para Pastor Paroki

Dengan berdirinya Paroki Parapat pada tahun 1952, pelayanan kerohanian terhadap umat semakin baik dan penyebaran misi Katolik semakin berkembang. Pada awalnya, Paroki Parapat melayani stasi-stasi yang menyebar di daerah sebagian Pulau Samosir, sebagian daerah Simalungun dan sebagian daerah Toba. Untuk pelayanan di daratan Pastor memakai sepeda motor dan untuk pelayanan di sekitar Danau Toba, beliau mempergunakan kapal.

Beberapa catatan tentang perkembangan umat Gereja Katolik Paroki Parapat dapat dilihat dari jumlah stasi yang cukup banyak, ditambah lagi dengan wilayah pelayanan yang begitu luas. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, P. Jennisken mendirikan beberapa stasi a.l.: Sigapiton (1950), Stasi Tomok (1952), Stasi Motung (thn. 1953), Sosor Tolong (1954), Sipangan Bolon (1955), Sipolha (1958), Pulo-pulo (1959), Repasilautu (1961), Lumban Pea (1962), Tambun Rea (1963) dan Pondok Bulu (1964). Selain itu, P. Jennisken tetap mengunjungi beberapa stasi yang sudah didirikan sebelumnya dan masuk bagian wilayah Paroki Onanrunggu dan kemudian masuk bagian Paroaki Parapat, a.l: Stasi Sipinggan (1938), Stasi Pangaloan (1938), Stasi Sosor Tolong (1939) dan Stasi Hutagurgur (1942).

Dengan semangat tak kenal lelah, P. Jennisken juga menjelajah daerah Simalungun dan melayani beberapa stasi yang sebelumnya masuk wilayah pelayanan misi dari Pematangsiantar serta mendirikan beberapa stasi yang baru. Stasi tersebut adalah StasiTigadolok (1934), Tomuan Dolok I (1934), Palianaopat (1936), Marihat Raja (1936), Lumban Ri (1953), Nagori Asi (1953), Marihat Baru (1960) dan Lumban Gorat (1961). Sejak tahun 1966, P. Raymond Rompa, OFMCap., bertugas menjadi Pastor Paroki menggantikan P. Jenisken. Pada masa tugasnya, beliau memelihara seluruh iman umat yang semakin berkembang. Dan, pada thn. 1970, beliau mendirikan stasi Lanting. Selanjutnya, tugas Pastor Rompa digantikan oleh P. Sylverius Yew, OFMCap., yang berkarya sejak thn. 1972 sampai thn. 1975.

Melihat luasnya daerah pelayanan (31 stasi) dan semakin bertambahnya jumlah umat maka pada tahun 1972 beberapa stasi, yang semula dilayani dari Parapat, bergabung dengan Paroki St. Yosef, Jln. Bali, Pematangsiantar, yang berdiri sejak tahun 1966. Stasi-stasi tersebut adalah: Stasi Tigadolok, Tomuan Dolok I, Palianaopat, Marihat Raja, Lumban Ri, Nagori Asi, Marihat Baru dan Lumban Gorat.

Maka, sejak tahun 1972 Paroki Parapat semakin fokus melayani umat di sekitar Parapat, Lumban Julu, dan Tomok. Stasi-stasi yang tetap dilayani Paroki Parapat sejak itu ada sebanyak 23 stasi. Ke-23 stasi tersebut adalah stasi: Aeknatolu, Ajibata, Girsang, Huta Gurgur, Lanting, Lumban Pea, Parapat, Pondok Bulu, Pulo-pulo, Repa Sileutu, Pangaloan, Sibisa, Sigapiton, Sipinggan, Sosor Tolong, Sipolha, Sirungkungon, Sipangan Bolon, Sibolopian, Tomok, Tambun Rea, dan Tanjungan.

Sejak thn. 1975 P. Anselmus Mahulae, OFMCap., bertugas sebagai Pastor Paroki. Beliau berkarya di Parapat hanya satu tahun. Untuk melanjutkan karya pastoral paroki, P. Sylverius kemudian ditugaskan kembali menjadi Pastor Paroki dari tahun 1976-1979. Selanjutnya, sejak tahun 1979 hingga 1983, P. Hyginus Silaen, OFMCap., menjadi Pastor Paroki. Pada masa tugasnya, beliau mendirikan Stasi Ujung Mauli (1980) dan Horsik (1980). Karya lain yang diupayakan P. Silaen adalah menggagasi berdirinya CU Tao Toba (01 Sep-tember 1979) dan menyelesaikan permasalahan tanah di Lumban Gambiri lokasi PPU Parapat sekarang, yang permasalahannya diselesaikan sampai ke tingkat Mahkamah Agung pada tgl. 26 Juli 1983.

Estafet kegembalaan paroki dilanjutkan oleh P. Marianus Simanullang, OFMCap. Beliau bertugas sebagai Pastor Paroki dari thn. 1983 sampai thn. 1985.  Tugas sebagai Pastor Paroki selanjutnya diemban oleh P. Venantius Sinaga, OFMCap dari thn. 1985 sampai thn. 1990.Pada masa tugas beliau, Paroki Parapat menyelenggarakan Pesta Tahbisan Imam pada thn. 1989. Imam yang ditahbiskan pada waktu itu adalah P. Richard Sinaga, OFMCap. (putra stasi Girsang) dan P. Ludovikus Siallagan, OFMCap. (putra Stasi Palianaopat Siantar). Pesta tersebut dilaksanakan di Open Stage Pagoda, Parapat.Beliau mendirikan Stasi Sibosur (1986), Stasi Parmonangan (1986), dan Stasi Onansampang, yang memekarkan diri dari Stasi Sibisa pada thn. 1989. Hingga tahun ini jumlah stasi di Paroki Parapat menjadi 28 stasi.

Selanjutnya, P. Alfonsus Simatupang, OFMCap., bertugas sebagai Pastor Paroki sejak thn. 1990. Seiring dengan adanya kebijakan mendirikan Dewan Paroki di setiap paroki KAM, P. Alfonsus juga mendirikan Dewan Paroki Parapat, menggalakkan Kelompok Tani dan kursus-kursus bagi Pengurus Gereja. Satu stasi yang didirikan pada periode Pastor ini adalah Stasi Ambarita pada tahun 1993. Dengan demikian, Paroki Parapat sejak tahun itu berjumlah 29 stasi.

Perkembangan Paroki selanjutnya diemban oleh P. Nelson Sitanggang, OFMCap., yang bertugas dari thn. 1996 sampai thn. 2000. Pada masa tugasnya, P. Nelson memindahkan Kantor Paroki dari Biara Kapusin Parapat ke kompleks PPU Parapat pada thn. 1996 setelah beliau membangun sebuah gedung untuk itu. Sebelumnya, sejak tahun 1952 – 1996, kegiatan pelayanan paroki berpusat di Biara Kapusin, Jl. Sirikki no. 6, Parapat. Sejalan dengan ide itu, P. Nelson, sejak thn. 1998, membangun gedung megah untuk Pusat Pembangunan Umat (PPU) yang terletak di Jl. Merdeka No. 53 A Parapat. Tujuan penting membangun gedung itu adalah menjadi pemusatan pendidikan dan pembinaan iman umat. Tanah tersebut sebenarnya sudah dibeli oleh P. Diego van den Biggelaar pada tahun 1948 dan sempat ditelantarkan.

Pada waktu acara peresmian Kantor Paroki dan PPU Parapat pada tgl. 20 Mei 2001, Uskup Agung KAM Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara, OFMCap., meresmikan nama paroki dengan nama pelindung Santo Fidelis, sehingga nama Paroki menjadi “Paroki Santo Fidelis Parapat”. Nama itu tidak lepas dari nama pelindung Biara Novisiat Kapusin Parapat, yakni Santo Fidelis Sigmaringen.

Hal lain yang pantas dicatat pada masa tugas P. Nelson adalah dikeluarkannya buku “Pedoman Pastoral, Siihuthonon ni Ruas Katolik Paroki St. Fidelis Parapat”, sebuah buku yang berfungsi sebagai Anggaran Dasar Paroki Parapat. Pedoman ini dikeluarkan pada bulan November 1999, sebagai penerapan dari buku Pedoman Pelayanan Pastora Paroki Keuskupan Agung Medan (P4KAM) yang dikeluarkan oleh Keuskupan pada tgl. 21 Agustus 1990.

Pastor Arie van Diemen, OFMCap., ditugaskan menjadi Pastor Paroki yang baru. Beliau memulai tugasnya sejak thn. 2000 hingga thn. 2007. Suatu peristiwa bersejarah di Paroki terjadi pada masa tugas beliau, yakni pemekaran paroki pada hari Minggu, tgl. 29 Oktober 2006. Sebanyak 10 (sepuluh) stasi, yakni stasi-stasi yang berada di seberang Danau Toba, bergabung ke Paroki Tomok–Simanindo. Oleh karena itu stasi yang tinggal pada wilayah pelayanan Paroki Parapat sejak itu berjumlah 19 stasi.

Tugas selanjutnya dilaksanakan oleh P. Samuel Aritonang, OFMCap., sejak thn 2007 sampai 2009. Pada periode ini, usaha untuk merehap gereja Stasi Lumban Pea dan Stasi Pulo-pulo sudah mulai dirancang dan pembangunannya selesai pada pada tahun 2010 dan 2011. Satu stasi yang didirkan oleh P. Samuel adalah Stasi Dolok Parmonangan pada thn 2008 sebagai pemekaran dari Stasi Pondok Bulu. Dengan demikian jumlah stasi di Paroki Parapat menjadi 20 stasi.

Kemudian P. Donatus Marbun, OFMCap,. berkarya menjadi Pastor Paroki sejak tahun 2009. Beliau ditemani oleh P. Dionisius Purba, OFMCap., sebagai Pastor Rekan (2009-2011) dan P. Christian Lumban Gaol, OFMCap, sebagai Pastor Rekan (2011-2012). Untuk tujuan karya pastoral, P. Donatus meminta kehadiran P. Frans Situmorang, OFMCap., menjadi pastor asistensi satu kali sebulan di Parapat.

Beberapa gagasan P. Donatus cukup nyata di Paroki Parapat, mis: melengkapi peralatan liturgi gereja di setiap stasi; merenovasi beberapa bangunan gereja stasi; melengkapi nama pelindung paroki: “Santo Fidelis Sigmaringen”; merancang motto Paroki: Teratur, Mandiri, dan Berkembang; menata ruang sekretariat Kantor Paroki dan PPU Parapat, menggalakkan sermon-sermon rayon, memulai penugasan penulisan sejarah-sejarah setiap stasi, dll.

Sejak tgl. 25 November 2011 hingga sekarang tugas Pastor Paroki dilaksanakan oleh P. Christian Lumban Gaol, OFMCap. Dalam tugas yang masih baru ini, beliau melanjutkan karya-karya pastoral paroki melalui kursus-kursus, sermon-sermon, rekoleksi pengurus gereja, merenovasi pembangunan gereja stasi Sirungkungon, Dolok Parmonangan, dan Onansampang, yang pembangunannya masih sedang berjalan, dan mengunjungi ke-20 stasi di Paroki serta menanggungjawabi pengembangan PPU Parapat. Fokus perhatian dan pelayanan Pastor ini lebih terarah pada bidang liturgi gereja.

Secara khusus, pada tahun terakhir ini (2013), P. Christian bersama panitia merancang dan melaksanakan Pesta Syukur (Jubileum) 80 tahun misi gereja Katolik di daerah Paroki Parapat. Pesta puncaknya akan dilaksanakan pada tgl. 09 Februari 2014. Beberapa kegiatan diprogramkan untuk ini termasuk penyusunan buku sejarah paroki dan perampungan sejarah gereja setiap stasi se-paroki.

5.2. Kehadiran dan Dukungan Biara Kapusin dan Kongregasi KYM

Perkembangan Paroki Parapat, sebagaimana dipaparkan di atas, sangat didukung oleh kehadiran para Pastor dan Bruder Kapusin yang bertugas di Biara Kapusin Parapat dan para Frater Kapusin yang ikut dalam karya kerasulan di stasi dan mengajar agama di sekolah-sekolah. Para Pastor, entah sebagai staf novis dan dosen para frater, dan Bruder tersebut sudah mulai berkarya di Parapat sejak thn. 1955. Beberapa nama yang pantas dicatat adalah: P. Siegfried v. Dam, P. Gonzalvus Snijders, P. Livinus, P. Adelbertus Snijders, P. Anastasius Dish, Br. Anscharius, Br. Feliks Daeli, P. Marianus v.d.Acker, P. Donatus Dunselman, P. Anselmus Brans, P. Norbert Kurzen, P. Honorius v.d. Heijde, P. Theodosius v. Eijk, P. Benitius Brevoort, P. Burchardus v.d. Weijden, P. Linus Fah, P. Ferdinand Knops, P. Guido Tharappel, P. Bavo Westgeest, P. Laurensius Sinaga, P. Yustinus Tinambunan, P. Marinus Telaumbanua, P. Wilfrid Winkler, P. Savio Nederstigt, P. Leo Sipahutar, P. Guido Situmorang, P. Samuel Sidin, P. Angelus Simanullang, P. Aloysius Telaumbanua, P. Damian Doraman, P. Louis Uran, P. Hendri Sihotang, P. Romanus Daeli, P. Venantius Kampfel, P. Albinus Ginting, P. Gratianus Tinambunan, P. Krisantus Marbun, P. Alphonsus Pandiangan, P. Nikolaus Sitanggang.

Selain itu, kehadiran para Suster dari Kongregasi KYM di Parapat sejak tgl. 28 Oktober 1963 juga berperan besar menopang kemajuan Paroki. Para suster yang hadir pada saat itu adalah: Sr. Fransiska de Chantal v.d. Linden, KYM, Sr. Flavia Napitu, KYM, Sr. Sisilia Sirait, KYM, dan Sr. Christina Rajagukguk, KYM. Sesudah mereka, sudah banyak suster silih berganti hadir dan berkarya di Parapat hingga sekarang. Mereka tinggal di rumah bernama Capri dekat Gereja Katolik dan Biara Kapusin Parapat. Tugas utama mereka adalah bekerja di dapur Biara Kapusin sejak tgl. 01 November 1963.

Kongregasi KYM pernah juga bercita-cita untuk mendirikan poliklinik dan karya pendidikan di Parapat. Akan tetapi, hal itu tidak terwujud. Baru pada tgl. 14 Juli 2006 Kongregasi berhasil memulai karya pendidikan dengan mendirikan TK Bintang Timur Parapat. Tugas lain yang dilaksanakan oleh anggota Kongregasi KYM adalah terlibat dalam tugas pastoral di Paroki sebagai katekis. Mereka melaksanakan tugas itu di stasi, si lingkungan, mendampingi Asmika, Areka, PIK (Punguan Ina Katolik) Parapat, membantu pelayanan komuni di gereja, memberi persiapan pelaksanaan komuni pertama, persiapan Sakramen Baptis dan Krisma. Tugas penting lain yang dilaksanakan oleh anggota kongregasi adalah bekerja di PPU Parapat sejak tgl. 08 Juli 2000.

Santo Fidelis dari Sigmaringen (1577-1622)

Pembela orang-orang miskin

(Imam Kapusin. Martir pertama dari Kongregasi Propaganda Fide.)

 

  • Perayaan 24 April
  • Lahir tahun 1577
  • Kota asal Freigburg – Jerman
  • Wilayah karya Jerman, Swiss
  • Wafat Tanggal 24 April 1622 di Grusch, Grisons, Switzerland |
  • Beatifikasi Tanggal 24 Maret 1729 Oleh Paus Benediktus XIII
  • Kanonisasi Tanggal 29 June 1746 oleh Paus Benediktus XIV

 

Fidelis dilahirkan dalam keluarga terkemuka di wilayah Hohenzollern pada tahun 1577. Nama baptisnya adalah Mark (=Markus), sedangkan Fidelis adalah nama biaranya. Namanya sebelum masuk biara adalah Mark Rey. Dia memperoleh karunia alami dan pada saat sama juga dianugerahi rahmat ilahi. Oleh karena itu, selagi berjalan maju dalam menuntut ilmu di dunia, dia pun mencatat kemajuan-kemajuan dalam keutamaan (kebajikan) dan kesalehan. Pada waktu  dia menyelesaikan studi filsafat dan hukum-nya di Universitas Freiburg di Breisgau, para orangtua dari beberapa anak muda bangsawan sedang mencari seorang tutor yang dapat menemani anak-anak mereka itu dalam sebuah tur ke beberapa tempat di Eropa. Para profesor di universitas menyarankan Mark kepada para orangtua tersebut, yang menurut mereka qualified untuk posisi tutor tersebut, apabila mempertimbangkan karunia-karunia moral dan juga mental yang dimilikinya. Mark menerima posisi itu, sebagai akibatnya selama enam tahun dia ikut ‘jalan-jalan’. Kepada anak-anak muda yang telah dipercayakan kepadanya, Mark tidak hanya  mengajarkan hal-hal penting dilihat dari sudut pandang dunia, melainkan juga praktek-praktek keutamaan Kristiani. Bagi anak-anak muda itu, Mark sendiri menjadi model teladan, karena selama enam itu tidak sekalipun mereka melihat Mark marah.

Setelah pulang dari ‘jalan-jalan’ selama enam tahun itu, Mark berprofesi sebagai seorang pengacara/penasihat hukum. Karena kemampuannya, dengan cepat dia pun banyak dicari orang. Namun, Mark kemudian melihat bahwa banyak ahli hukum karena pengaruh uang melakukan pelanggaran terhadap keadilan dan dia pun sempat dibujuk untuk terlibat  dalam hal yang sama. Maka dia pun meninggalkan karir ‘berbahaya’ sebagai ahli hukum itu.

Mark mempunyai seorang kakak laki-laki dalam Ordo Saudara Dina Kapusin. Pada tahun 1612 dia bergabung dengan para saudara Kapusin. Pada saat penerimaan Mark mendapat nama biara Fidelis, artinya ‘seorang yang setia’. Pada waktu memberikan sambutan dan wejangan, sang pemimpin upacara mengutip sabda dari Kitab Suci: “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” (Why 2:10). Sabda Tuhan ini sudah di- ‘takdir’-kan sebagai suatu nubuatan bagi Fidelis. Setelah menyelesaikan pendidikan teologia-nya dan ditahbiskan, dia menjadi seorang pengkhotbah dengan semangat yang berapi-api. Sementara itu, dia pun menjadi seorang model dalam segala praktek hidup membiara. Tidak heranlah kalau beberapa tahun kemudian, Fidelis pun diangkat menjadi gardian.

Dalam posisinya sebagai gardian dengan penuh ketulusan Fidelis mengupayakan agar para saudara yang berada di bawah bimbingannya mendapat kesempurnaan religius. Secara istimewa dia mendesak agar para saudara tersebut menepati kemiskinan yang suci, tanpa toleransi terhadap pelanggaran atas hal tersebut. Dia pun lebih keras terhadap dirinya daripada terhadap para saudara yang dibimbingnya. Seturut ajaran Santo Fransiskus, dia juga menjaga, memelihara dan mengasihi para saudaranya seperti seorang ibu. Bagi Fidelis, tidak ada pengorbanan yang terlalu besar untuk suatu tindakan demi menyelamatkan jiwa seseorang. Pada waktu Fidelis menjadi gardian di Feldkirch,  wabah penyakit menular melanda di tengah-tengah para serdadu di sana. Tanpa hitung-hitung untung-ruginya, Pater Fidelis langsung terjun ke lapangan menolong mereka. Sebagai pengikut Santo Fransiskus terus mengabdikan dirinya bagi orang-orang yang lemah, tersisihkan dan sungguh membutuhkan bantuan.

Pada tahun 1622, Kongregasi Propaganda Fide yang baru dibentuk oleh Paus Gregorius XV menetapkan suatu misi untuk orang-orang Grison di negeri Swis, dengan tujuan mengecek penetrasi orang-orang Kristen Calvinist dan Zwinglian (pengikut Zwingli). Misi yang terdiri dari para saudara Kapusin tersebut dipimpin oleh Pater Fidelis. Memang sudah sekian lama dia mohon setiap hari kepada Allah dalam Misa Kudus, agar dapat menumpahkan darahnya demi Iman.  Keberhasilan dalam kegiatan misi pada bulan-bulan pertama mereka berada di negeri Swis telah membuat marah orang-orang Calvinist dan Zwinglian itu. Dan Fidelis pun sudah dimasukkan dalam daftar orang yang harus dibunuh. Pada pagi hari tanggal 24 April 1622 di Sevis (Seewis), Saudara Fidelis begitu yakin bahwa dia akan bertemu dengan Saudari Maut pada hari ini, sehingga dia benar-benar menyiapkan diri untuk saat-saat terakhir itu. Tanpa mengindahkan nasihat teman-temannya yang mengkhawatirkan nasibnya, dia naik ke mimbar untuk berkhotbah. Selagi berkhotbah segerombolan orang bersenjata memasuki gereja dengan paksa. Mereka menyeret Saudara Fidelis turun dari mimbar lalu menganiayanya sampai mati. Saudara Fidelis dituduh menjadi penentang aspirasi nasional para petani kecil yang mau merdeka dari Austria.  Pater Leonard Foley OFM dalam bukunya mengatakan, bahwa  Saudara Fidelis luput dari tembakan selagi berkhotbah. Seorang Kristen Protestan menawarkan pertolongan untuk memberikan kepadanya tempat perlindungan, namun ditolak olehnya, sambil mengatakan bahwa hidupnya ada di tangan Allah. Di tengah perjalanan pulang, sekelompok orang bersenjata menangkapnya  dan membunuhnya. Jadi ada dua cerita yang agak berbeda satu sama lain, namun yang jelas dan penting bagi kita ialah bahwa Saudara Fidelis mati sebagai seorang martir Kristus sejati. Banyak sekali mukjizat terjadi setelah kematiannya. Fidelis dikanonisasikan sebagai orang kudus oleh Paus Benediktus XIV di tahun 1746.

 

Santo Fidelis dari Sigmaringen adalah orang kudus pelindung para ahli hukum.