Stasi Santa Ester Dolok Parmonangan

Situasi Awal

Dolok Parmonangan
Gereja Lama

Stasi ini merupakan pemekaran dari stasi Pondok Bulu. Saat bergabung dengan stasi Pondok Bulu, beberapa umat dari lingkungan ini sangat rajin mengikuti peribadatan. Namun karena jarak 6,5 km mengakibatkan rasa malas. Alasan lain, umat sering terlambat karena perjalanan menuju Pondok Bulu sudah butuh waktu yang cukup lama dan mengeluarkan biaya transport sementara tingkat ekonomi umat sangat rendah. Tidak lama kemudian, akhirnya pada tahun 2006 beberapa umat membicarakan rencana pembangunan gereja tepatnya di rumah bapak Rusiman Siallagan. Hasil pembicaraan mereka disampaikan Ibu Maida Simanjuntak dan bapak Makim Siallagan ke Pastor Paroki. Rencana mereka diizinkan Pastor Paroki.

Pada tahun 2008 mereka mulai melaksanakan peribadatan di rumah Bapak Rusiman Siallagan. Pada saat itu umat yang sudah Katolik berjumlah 14 KK yakni keluarga: Kel. Alken Gultom, Kel. Jainal Gultom, Kel Makim Siallagan, Kel. Rusiman Siallagan, Ibu Senti Nainggolan, Bapak Robin Sihotang, Ibu Menna br Siallagan, Kel Sahala Tarihoran, Kel Parningotan Gurning, Kel Jamudo Manik, Kel Samsudin Samosir, Kel Satia Siallagan, dan Op. Sapanya Gultom. Umat lain yang mau bergabung ada sebanyak 13 KK dari Gereja HKBP dan GKPS.

Setelah umat terkumpul berjumlah 26 KK, mereka tetap melaksanakan peribadahan di rumah Bapak Rusiman Siallagan selama 3 bulan. Saat itu yang menjadi pengurus adalah bapak Samsudin Samosir, Rusiman Siallagan, Makim Siallagan dan Ibu Mariati br Silalahi. Setelah 2 minggu, diadakan pendampingan kepada umat yang berasal dari protestan.

Pembangunan Fisik Gereja

Komuni Pertama Dolok Parmonangan
Komuni Pertama di dalam gereja Baru

Seiring berjalannya waktu, karena jumlah umat juga sudah mengalami perkembangan. Peribadatan di rumah umat tidak memungkinkan lagi. Mereka berniat mendirikan gereja. Mereka berencana mendirikan gereja di Huta Tonga-tonga. Mereka akhirnya membujuk bapak Jaenal Gultom agar memberikan tanahnya untuk dibeli. Pada bulan Agustus tahun 2008, Pastor paroki pun menyetujui pembangunan gereja darurat dengan lantai tanah, dinding bambu dan beratapkan seng.

Kepengurusan dan Perkembangan Umat

Pada tahun 2008 saat peribadatan masih dilaksanakan di rumah Bapak Rusiman Siallagan. Adapun pengurusnya adalah: Bapak Samsudin Samosir, Rusiman Siallagan, Makim Siallagan, dan ibu Mariati br Silalahi, dan guru sekolah minggu pada saat itu adalah Saparia br. Siallagan. Saat itu jumlah umat sudah 26 KK baik yang berasal dari gereja tetangga maupun yang sudah katolik.

Sesudah resmi dimekarkan dan ada pengangkatan pengurus, maka kepengurusan telah berganti. Adapun pengurusnya yakni Vorhanger: Samsudin Samosir. Para sintuanya: Rusiman Siallagan, Jaenal Gultom, Maida Simanjuntak, Nurlina br Sijabat. Jumlah umat pada masa kepengurusan mereka bertambah menjadi 27 KK.

Pada tahun 2009-2011 Vorhanger: Samsudin Samosir sedangkan para sintua: Rusiman Siallagan, Roland Hutauruk dan Hotma Br. Sinaga. Pada masa jabatan beliau sebagai Vorhanger jumlah umat berkurang menjadi 25 KK karena ada umat yang kembali ke stasi Pondok Bulu sebanyak dua orang yakni Ibu Etiolan Sinaga dan Bapak Jahamad Manik. Tahun 2011-2014 Vorhanger diemban oleh Rusiman Siallagan dan para pengurus gereja lainnya yakni : Natalis Siallagan, Derita Sihaloho, Nurlina Sijabat dan Mariati Br. Silalahi.