Stasi St. Andreas Rasul Sigaolgaol

Pada awalnya Stasi Repa Sileutu terdiri dari dua lingkungan yang disebut dengan Lingkungan Dolok dan Lingkungan Pantai. Gereja didirikan di pertengahan kedua lingkungan ini. Jarak tempuh yang jauh dan dan kondisi jalan yang tidak memadai, baik untuk Lingkungan Pantai maupun Lingkungan Dolok tidak menyurutkan semangat umat untuk mengikuti peribadatan setiap hari Minggu dan perayaan Ekaristi (saat pastor datang). Lingkungan Dolok menuruni bukit untuk menjangkau gereja sedangkan Lingkungan Pantai harus mendaki bukit untuk dapat sampai ke gereja.

Gereja Repa Sileutu berkembang dengan baik. Perencanaan pembangunan bilut parhobason (sankristi) telah disetujui oleh umat untuk melengkapi kelayakan rumah Tuhan. Setelah dibicarakan dengan pemilik tanah tentang perencanaan pembangunan bilut parhobason ternyata pemilik tanah tidak memberi izin. Surat-surat tanah dan bangunan gereja tidak lengkap sehingga pembangunannya terhalang. Pastor paroki dan pengurus gereja serta umat mencoba mencari solusi terbaik. Alasan surat tanah yang tidak ada dan letak gereja yang jauh dari rumah umat baik Lingkungan Dolok maupun Lingkungan Pantai menjadi faktor pendukung untuk memindahkan gereja Repa Sileutu ke tempat yang lebih dekat ke tempat tinggal umat.

Pengurus gereja dan pastor paroki telah setuju/menyepakati pemindahan gereja Repa Sileutu ke Parhotingan dekat umat Lingkungan Dolok. Lalu bagaimana dengan Lingkungan Pantai? Jarak tempuh semakin jauh. Maka rapat pemekaran gereja Repa Sileutu yang pertama diadakan di rumah bapak Gomgom Simanjuntak pada tanggal 16 Mei 2012. Rapat yang pertama ini dihadiri oleh pastor paroki pastor Donatus Marbun (pastor paroki saat itu) dan pengurus gereja Repa Sileutu serta umat Lingkungan Pantai. Seiring berjalannya waktu, umat Lingkungan Pantai mencari lahan untuk pendirian gereja Tuhan. Rumah kosong yang terletak di Lingkungan Pantai menjadi sasaran utama. Rumah itu adalah milik bapak Alman Simanjuntak (Pak Relly Simanjuntak). Pengurus gereja yang tinggal di Lingkungan Pantai melakukan pendekatan bagi pemilik rumah. Setelah kedua belah pihak, antara pengurus gereja (umat) dan pemilik rumah sepakat melakukan transaksi jual beli, dengan tujuan tempat ibadah. Pembelian rumah seharga Rp 20.000.000 belum termasuk tanah. Pembelian ini dihadiri oleh pengurus gereja gereja Repa Sileutu: Bpk Usman Sitorus (Vorhanger); Bpk Aris Sugianto Silalahi (Bendahara); Bpk. Bahtiar Simanjuntak (Seksi Mudika); Ibu. Risda br Manik (Seksi punguan Ina)

Umat Lingkungan Pantai awalnya masih beribadat ke gereja Repa Sileutu yang baru di Parhotingan. Tetapi karena jarak tempuh yang semakin jauh ke Parhotingan, umat yang ada di Lingkungan Pantai bekerja keras untuk bergotong-royong memperbaiki rumah yang sudah dibeli. Sekat-sekat rumah dibongkar dan pelan-pelan dijadikan seperti gereja yang layak pakai. Umat Lingkungan Pantai merasa perlu untuk membuat status bangunan dan tanah yang tetap. Maka pengurus serta umat menghubungi pemilik tanah yang bangunan gereja kecil ada di atasnya. Umat berunding dengan pemilik tanah. Umat yang dengan rendah hati menuturkan tujuan dari tanah itu untuk lahan gereja. Karena tujuan yang mulia maka pemilik tanah menyetujui lahan itu untuk pembangunan gereja Katolik. Kunjungan pastor paroki ke Lingkungan Pantai untuk merayakan misa lingkungan menjadi waktu yang tepat untuk pembuatan surat hibah atas tanah 15 x 60 m. Tanah itu milik marga Sinaga. Tanah tersebut telah dihibahkan kepada umat Lingkungan Pantai dengan harga pago-pago Rp 3.000.000. Pemilik tanah yang menghibahkan/menyerahkan tanah tersebut adalah: Op.Taruli Sinaga; Op. Marlina br Manik; Op. Enjel Sinaga dan Pak. Priska Sinaga.

Surat rumah dan tanah sudah jelas. Bagunan belum layak pakai, namun umat Lingkungan Pantai sudah harus berpisah dari Stasi Repa Sileutu karena jarak tempuh yang semakin jauh. Pada tanggal 3 Mei 2015, umat Lingkungan Pantai melaksanakan ibadat sabda yang pertama setelah terpisah dari Stasi di rumah Op. Bonaventura Simanjuntak, dengan pengurus sementara:Wakil KDS: Bahtiar Simanjuntak; Sekretaris: Risda Manik; Seksi FSE: Aris Sugianto Silalahi; Seksi PIK:Mawarni Lumbanbatu; Seksi PAK: Rudol Sitorus.

Umat bekerja keras untuk melengkapi fasilitas gereja yang masih berbentuk rumah. Kursi gereja diambil dari gereja lama. Altar dan mimbar diperbaiki supaya layak pakai untuk perayaan Ekarsti. Penerangan lampu listrik masih diambil dari tetangga yang juga umat yaitu E.Aritonang.

Empat minggu umat Lingkungan Pantai melaksanakan ibadat sabda di rumah Op. Bonaventura Simanjuntak. Dalam jangka waktu empat minggu umat memperbaiki segala keperluan gereja. Pada tanggal 31 Mei 2015 umat Lingkungan Pantai mengadakan misa pertama pemberkatan gereja oleh pastor paroki Pastor Kristian Nadeak dengan nama pelindung Stasi Santo Andreas Rasul. Pemberkatan ini serta pengukuhan pengurus baru stasi Santo Andreas Sigaol-gaol. KDS: Bahtiar Simanjuntak; WKDS: Timbul Sinaga; Sekretaris: Risda Manik; Bendahara: Aris Sugianto Silalahi; Seksi Asmika: Mawarni Lumbanbatu; Seksi PIK: Sariah Napitu; Seksi PAK: Rully Silitonga; Seksi FSE : Rosmaida Sihotang; Seksi Mudika: Rudol Sitorus.

Jumlah KK di stasi ini adalah 18 KK. Setelah selesai Misa pemberkatan dilaksanakan pemilihan ketua pembangunan. Rencana pesta pembangunan gereja sempat dibicarakan. Proposal pembangunan telah sempat diajukan namun pastor paroki meminta supaya lain waktu, karena di beberapa stasi masih tahap pembangunan. Saran itupun diterima dengan lapang dada oleh umat. Rencana pembangunan tetap berjalan. Umat yang sebanyak 18 KK telah memulai stasi baru ini. Semangat dan iman yang kuat mengumpulkan dana yang ditetapkan bagi setiap KK Sebesar Rp 3.000.000. Uang ini tidak sekaligus dibayarkan, tetapi dicicil semampunya. Uang yang terkumpul disimpan di CU dan di pegang oleh pastor paroki.

Stasi kecil ini memenuhi segala persyaratan dari paroki termasuk penyetoran dana mandiri.
Stasi St. Andreas Rasul Sigaol-gaol terletak di pinggiran Danau Toba. Gereja berhalamankan danau dan di belakang gerja masih berdiri bukit yang berbatu-batu. Umat bahu membahu untuk memperluas lokasi gereja dengan meratakan bukit yang ada di belakang gereja dan menimbun beberapa meter di depan gereja. Tanah dan batu hasil galian dari belakang gereja menjadi timbunan tanah untuk memperluas halaman gereja.