Stasi St. Fransiskus Assisi Tambunraya

Situasi Awal

Pada tahun 1966 orde baru menyentuh masyarakat desa Tambun Raya. Pemerintah mewajibkan masyarakat memiliki agama. Kepala lorong M.Wilson Ambarita beserta semua masyarakat membicarakan agama yang harus dianut. Mereka memilih Katolik walaupun di masa itu warga sudah ada yang beragama GKPS selain agama parmalim. Alasan untuk memiliki agama juga dikarenakan anak-anak dari desa ini mau merantau atau melanjutkan sekolah keluar kampung. Setiap orang yang keluar kampung harus mengurus SKBB dari kepolisian.

TambunrayaPada tahun 1967 berdirilah Gereja Katolik di Pematang Tambun Raya. Mereka beribadat di rumah M. Wilson Ambarita. Mereka berasal dari lingkungan Sait Ni Huta, Sari Mula, Sosor, Huta Mula, Simpang Tiga dan Pancur. Mereka belum mengetahui ibadat Mingguan dengan baik. Melalui kesepakatan bersama, mereka memanggil 2 orang bapak dari stasi yang berbeda untuk memberikan pelajaran mengenai katolik (B.Damanik dari stasi Sipolha paroki Parapat dan dari stasi Siruberube paroki Saribu Dolok). Kedua bapak ini bergantian memberi pendampingan. Mereka menyampaikan maksudnya menjadi katolik ke Pastor Paroki yakni P.Raymond Rompa OFMCap. Niat mereka terhambat karena kurangnya tenaga imam. Setiap umat yang mau dipermandikan harus pergi ke paroki.

Pembangunan Fisik Gereja

Karena ibadat mingguan masih dilakukan di rumah bapak M. Wilson Ambarita maka P.Rompa OFMCap menggagasi pendirian gereja. Panitia pembangunan dipilih oleh P. Rompa yakni Ketua Pembangunan: M. Wilson Ambarita, Sekretaris: Nuan Purba, Bendahara: Bambu Sidabalok. Sesuai dengan musyawarah dan suara terbanyak maka P.Rompa OFMCap menetapkan bahwa bangunan gereja didirikan di Pinggir jalan raya. Pada tahun 1968 timbul tindakan untuk menggagalkan pembangunan gereja dari

sekelompok marga Damanik yang menggugat tanah tempat dimana gereja hendak didirikan. Saat perencanaan pembangunan berlangsung, banyak yang tidak senang dengan ketua pembangunan M.Wilson Ambarita. Mereka mengancam ketua pembangunan gereja. Untuk mengantisipasi niat jahat itu, umat melindungi ketua pembangunan dengan berjaga malam di sekeliling rumahnya.

Pada tahun 1969 mulailah pembangunan gereja. Pembangunan tidak berlangsung lama karena semangat gotong royong. Pemberkatan dan peresmian gereja dilakukan oleh P.Raymond Rompa pada tahun 1970 yang sekaligus pembaptisan umat, penerimaan resmi serta ekaristi. Struktur kepengurusan pada saat itu Nuan Purba (vorhanger), Taralim Sitio (wakil) Nuan Purba (sekretaris) Bambu Sidabalok (Bendahara).

Kepengurusan dan Perkembangan Umat

Vorhanger I: Jaham Silalahi (1966-1968) dengan jumlah umat 70 KK. Vorhanger yang II yakni bapak Nuan Purba (1968-1975) dengan jumlah umat berjumlah 32 KK (banyak umat pindah karena sengkata tanah). Vorhanger III Lusdin Siadari (1975-1994). Vorhanger IV: Asman Situmorang (1994-1998) dengan jumlah umat sebanyak 32 KK. Vorhanger ke-V yakni Samer Purba (1998-2002). Jumlah umat berkurang menjadi 29 KK karena umat pindah ke GKPS. Para sintuanya Asman Situmorang, Open Siadari Taralim Sitio, Aller Ambarita, Kennedi Naibaho, Regina br.Sigiro, Buahniar Sidabutar, Emeriahda Br. Sinaga Vorhanger yang VI adalah Lusdin Siadari (2002-2004) dengan jumlah umat sebanyak 32 KK. Vorhanger VII Nuan Purba (2004-2006). Vorhanger yang VIII yaitu Samer Purba (2006-2011) dengan jumlah umat 32 KK. Kepengurusan tahun 2011-2014 adalah: Lusdin Siadari sebagai vorhanger. Para sintua saat ini: Samer Purba, Gusmer Nainggolan, Mustafa Situmorang Tonggor, Ambarita, Hikler Simajuntak, dan Anton Siadari. Hingga kini jumlah umat 38 KK dengan jumlah jiwa 265 orang.