Stasi St. Lepold Mandik Lanting

Situasi Awal

Pada tahun 1957 belum ada gereja katolik di desa Hutanamora (Lanting). Umat dari kampung ini bergereja di Sionggang. Jumlah mereka 10 KK. Pada saat itu Firman Manurung sebagai vorhanger I di Gereja Lantingstasi Sionggang. Dari stasi Sionggang pindah ke Lanting dan Lumban Pea. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1969 berdirilah gereja di Lanting. Sedangkan di Lumban Pea gereja berdiri tahun 1970. Pemekaran itu dikarenakan banyak umat pindah dari stasi Sionggang ke Lanting dengan alasan tempat yang lebih dekat untuk dijangkau. Sebagai penggagas ialah Balehat Saragi, Sorang Sirait, Uten Sirait, dan Gustaf Sirait. Akhirnya stasi Sionggang ditutup.

Pembangunan Fisik Gereja

Bangunan gereja pertama tahun 1970 adalah gereja darurat berukuran 7x7M di atas tanah 20x45M yang merupakan hibah dari Marga Sirait Hutanamora. Tahun 1985 stasi ini membangun gereja baru semi permanen dengan ukuran 7x10M. Di tahun 1999 dibangun kembali gereja permanen dengan ukuran 8x14M yang bertujuan untuk menampung umat yang semakin bertambah. Jadi, stasi ini sudah 3 kali mengadakan perehapan dan pembangunan gereja mulai dari gereja darurat hingga ke bangunan yang permanen.

Tahun 1985 umat membangun gereja semi permanen yang lebih besar dengan ukuran 7x10m. Dalam pembangunan gereja baru itu, posisi bagian depan diubah yang tadinya menghadap ke kampung Lanting menjadi menghadap ke jalan desa. Seluruh biaya pembangunan dari umat dan dibangun oleh umat juga. Hal ini menunjukkan semangat mereka dalam bergotong royong. Dalam pembangunan gereja ini umat menyumbangkan 8 lembar papan/KK.

Tahun 1999 umat mengadakan pembangunan gereja yang lebih besar lagi dengan ukuran 8x14m. Selesai pembangunan, umat langsung mengadakan pesta peresmian gereja yang dihadiri oleh Uskup Mgr. Pius Datubara tepatnya tanggal 23 Oktober 1999. Sebagai pastor paroki saat itu ialah P.Nelson Sitanggang OFMCap. Sampai sekarang umat stasi masih melengkapi peralatan gereja yang masih kurang.

Berikut adalah orang-rang yang mau mengabdikan diri menjadi pengurus Gereja. Vorhanger I ialah Sorang Sirait (1969-1987). Tahun 1976, beliau dibantu oleh Bistok Sirait (sekretaris) dan Sihar Butar-Butar (bendahara). Pada saat itu belum ada pelantikan pengurus gereja seperti yang sekarang. Vorhanger yang pernah menjabat: Sorang Sirait (1969-1987), Mutihar Sirait (1988-1991), Galatia Manurung (1991-1994; 1999-2002; 2008-2011), Sakkot Sinaga (1994-1996), Maringan Sirait (1996-1999; 2002-2005), Risjon Sirait (2005-2008), Asben Sirait (2011-2014).

Kepengurusan dan Jumlah Umat Sekarang

Kepengurusan sekarang Asben Sirait sebagai Vorhanger dan para anggotanya: Mula Horas Sirait, Janter Situmorang, Sondang Sirait, Maringan Sirait, Risjon Sirait, dan Galatia Manurung. Umat yang bergereja ke stasi Lanting berasal dari 4 desa yakni desa Hutanamora, desa Lanting, desa Janji Maria, dan desa Siarsam. Sedangkan letak bangunan Gereja ada di Hutanamora. Umat mengalami perkembangan dalam jumlah meski tidak sepesat stasi-stasi lain. Hingga tahun 2012 jumlah umat di stasi ini sebanyak 35 KK dengan jumlah jiwa 187. Hingga tahun 2012 jumlah umat stasi Lanting 35 KK dengan jumlah jiwa sebanyak 187 orang.