Stasi St. Petrus Girsang

Situasi Awal

Tahun 1934 katolik diperkenalkan ke stasi ini oleh P.Decklar OFMCap dan Kerkes OFMCap. Umat simpatisan katolik pada awalnya sebanyak 15 kk. Ke 15 kk itu didampingi oleh Pendeta Kenan Hutabarat. Stasi Girsang merupakan stasi tertua di Paroki ini berdiri 1 tahun kemudian tepatnya tahun 1935. Di tahun itulah P.Van Rossum OFMCap datang dari Balige ke desa Girsang dan mendirikan Katolik dengan jumlah umat sudah 20 kk.

Pembangunan Fisik Gereja

Gereja GirsangPada tahun 1935 Pastor Decklar OFMCap, Kerkes OFMCap dan P.Van Rossum OFMCap membuat rencana untuk membangun gereja semi permanen karena perkembangan jumlah umat. Sehingga pada tahun itu juga dibangunlah gereja semi permanen dengan ukuran 7×15 M dan rumah pastor. Tanah itu merupakan pemberian dari tuan Bung Anggarajim Sinaga. Tahun 1937 sampai tahun 1939 gereja tersebut sekaligus digunakan sebagai gedung sekolah SR (Sekolah Rakyat/mulo).

Pada tahun 1961 sampai tahun 1982 saat kepengurusan Putar Konradus Situmorang sudah terbagi menjadi 2 lingkungan, kemudian setelah kepengurusan Martinus Oskar Manik terbagi menjadi 4 lingkungan. Di kepengurusan Amantitus Sidabalok, Pastor Paroki adalah P.Donatus Marbun memberi nama pelindung lingkungan yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Tahun 1968 lonceng gereja Girsang dibawa dari Belanda oleh Pastor Jeniskens OFMCap.

Pada tahun 1974 jumlah umat semakin berkembang. Umat mengadakan rencana pembangunan gereja yang diketuai oleh Tinus Arfinus Sirait. Saat bangunan gereja sudah mencapai 3 M, pembangunan berhenti karena kekurangan dana. Pembangunan berhenti sampai tahun 1982. Bangunan itu tidak dapat digunakan lagi. Maka tahun itu juga diadakanlah peletakan batu pertama sekaligus pembangunan gereja baru sampai selesai. Tanggal 20 Oktober 1996 gereja tersebut diresmikan oleh Uskup A.G. Pius Datubara.

Para Vorhanger dan Perkembangan Umat

Pada tahun 1934-1935, Pendeta Kenan Hutabarat menjadi Vorhanger dengan jumlah umat 15 KK. Tahun 1935-1937, umat dilayani oleh oleh Bruder guru Pipin dengan jumlah 20 KK. Tahun 1937-1939 guru Marojahan Tampu Bolon menjadi vorhanger. Pada tahun 1939 guru Marojahan pindah ke Balige Ia digantikan oleh Serhem Sirait sampai tahun 1942, dengan jumlah umat 30 KK. Tahun 1945, jumlah umat menjadi 40 KK. Tahun 1958 terjadi pemberontakan PRRI. Umat ketakutan sehingga banyak yang mengungsi ke hutan. Guru Wasinton Sinaga ditangkap pemberontak dan dibawa ke hutan bersama dengan wakilnya Putar Konradus Situmorang. Tahun 1965 terjadi G30S PKI mengakibatkan umat Girsang mesti menjaga gereja paroki di Parapat. Mereka adalah Anton Leo Sinaga, Jaudin Dominikus Manik, dan Jakiman Marinus Barita Manik.

Para penerus vorhanger adalah Guru Washinton (1942-1961) dan diteruskan oleh Andreas T. Sinaga (1960-1961), Putar K Situmorang (1961-1982) Oskar Manik (1982-1988), Putar Konradus Situmorang (1988-1994) dengan jumlah umat 70 KK, Amantitus Sidabalok (1994-2000) dengan jumlah umat 80KK, Kosner Sinaga (2000-2002), Amantitus Sidabalok (2002-2005) dengan jumlah umat 100KK, Bintang Hasudungan Manik (2011-2014) dengan jumlah umat 125 KK atau 555 jiwa. Para Sintua: Robinson Situmorang, Iwan Pakpahan, Darmadoni Sulalahi, Nardo Sinaga, Biner Tambunan, Joden Sinaga, Lasmina Br. Tambunan, Roslan Nababan, Tiurlan Br. Purba, Posma Br. Sinaga, Komsi Tindaon dan Amantitus Sidabalok.