Stasi St. Thomas Rasul Lumban Pea

Situasi Awal

Bapak Kenneri Sirait menginginkan supaya gereja Katolik berdiri di Lumban Pea. Bapak itu memperkenalkan ajaran Katolik kepada masyarakat. Masyarakat yang tertarik kepada Katolik memberikan tanah sebagai tempat berdirinya gereja. Pemberi tanah adalah keluarga besar Sinurat dan keluarga besar Sitorus.

Gereja LumbanpeaPada tahun 1959 berdirilah gereja darura dengan jumlah umat 10 KK: Sabar Sinurat, Op Arro, Renatus Sitorus, Op. Sinur, A.Sotur, A. Pordi, A. Rondang, Op.Ressus, Hampung Makkuk, dan Kenneri Sirait. Seiring dengan berjalanya waktu maka umat bertambah 2 KK menjadi 12 KK. Vorhanger saat itu adalah bapak Kenneri Sirait (1959-1984) dibantu oleh Hitar Sitorus yang setiap Minggu datang dari Aek Na Tolu ke Lumban Pea. Saat itu bapak Kenneri Sirait belum mengetahui tata urutan ibadat Katolik secara benar sehingga beliau meminta bantuan bapak Hitar Sitorus.
Bergabungnya Umat dari Sionggang

Pada tahun 1959 datanglah A.Jomita Manurung ke Sionggang untuk memperkenalkan ajaran agama Katolik sehingga pada saat itu berdirilah gereja darurat di Sionggang dengan ukuran 6x8M dengan jumlah umat 12 KK. Yang menjadi Vorhanger adalah Diris Manurung yang dibantu oleh A. Jomita Manurung. Sintua-sintuanya adalah Oberlin Nadapdap, Jamot Naibaho, A.Panrido Samosir, Japinawan Harok. Tetapi karena Gereja di Lanting sudah didirikan, 6 kk umat pindah dari Sionggang ke Lanting. Sehingga umat di Sionggang menjadi 6 KK. Akhirnya stasi Sionggang ditutup karena umat pindah ke stasi Lanting dan Lumban Pea.

Pembangunan Fisik Gereja dan Perekembangan Umat

Umat di Sionggang tinggal 6KK. Karena jumlah sedikit, maka mereka menggabungkan diri dengan Lumban Pea. Pada tahun 1960, umat di Lumban Pea semakin berkembang menjadi 17 KK. Situasi ini menuntut supaya membangun. Maka tahun itu juga dibangunlah gereja setengah permanen dengan ukuran 7×14 M. Vorhanger saat itu bapak Kenneri Sirait. Di tahun berikutnya beralih ke bapak Tahan Sirait namun tidak berjalan akibatnya kembali lagi ke bapak Kenneri Sirait sebagai vorhanger. Jumlah umat yang ada di Lumban Pea menjadi 22 KK.

Kepengurusan gereja pada saat bapak Kenneri Sirait kurang berjalan dengan baik maka P.Hyginus Silaen memberhentikan Bapak Kenneri Sirait dari jabatannya sebagai Vorhanger. Kekosongan jabatan berlangsung selama 6 bulan. Setelah beberapa lama, bapak Diris Manurung terpilih. Pensiunnya bapak Diris Manurung digantikan oleh bapak Baren Nadapdap (1987-2001). Kevorhangeran diteruskan bapak Jomat Naibaho (2001-2005). Tahun 2005-2011 diteruskan oleh Marasal Manurung. Jumlah umat 32 KK. Tahun 2012 jumlah umat menjadi 47 KK. Bangunan gereja permanen yang ada sekarang diresmikan tanggal 27 Februari 2011 oleh Uskup Mgr. Anicetus Sinaga OFMCap.