Stasi St. Yohanes Onan Sampang

Situasi Awal

Gereja Onansampang
Gereja Lama

Stasi ini berdiri tahun 1989. Stasi ini dimekarkan dari stasi Sibisa. Alasan pemekaran adalah jarak tempat tinggal umat dengan bangunan gereja yang sangat jauh. Pada awalnya mereka beribadah di rumahi Op. Soriaman Butar-Butar. Pada awalnya ibadat berjalan seperti doa lingkungan biasa. Jumlah umat pada awalnya adalah 11 kk. Seiring berjalanya waktu, stasi Onan Sampang mengalami perkembangan dalam pertambahan jumlah umat.

Pembangunan Fisik Gereja dan Perkembangan Umat

Pada bulan Juni 1989 umat dan parhalado bermufakat mengundang pemilik tanah di Parbiusan Sibisa yakni Raja Bius Sitorus, Raja Bius Sirait, Raja Bius Butar-Butar, Raja Bius Manurung dan Boru Bius Marga Nadapdap untuk meminta tanah sebagai tempat pendirian bangunan gereja. Di tahun itu juga berdiri gereja darurat dengan ukuran 4 x 7m, berlantai tanah, beratap seng bekas yang bocor dan berdinding gedek. Pada tahun 1991-1992 umat meningkat menjadi 27 KK. Umat dan parhalado menunjukkan semangat mereka dengan bergotong- royong membangun gereja di Onan Sampang.

Jumlah umat semakin bertambah. Gereja darurat tidak mungkin bertahan terus harus dilakukan pembangunan gereja yang lebih besar dan lebih bagus untuk mendukung peribadatan setiap minggunya. Maka pada tanggal 20 Februari 1995 dilaksanakan pelatakan batu pertama untuk gereja stasi Onan Sampang. Peletakan batu pertama dilakukan oleh P. Angelus Simanullang OFMCap. Saat itu stasi Onan Sampang tetap bergabung dengan stasi Sosor Pea.

Pada tahun 2000 jumlah umat bertambah menjadi 52 KK. Jumlah tersebut diperkirakan kurang lebih 35% dari seluruh jumlah penduduk di dua desa Sibisa. Saat itu umat masih merasa membutuhkan pembinaan dalam bidang rohani dan jasmani, serta dalam bidang pertanian.

Pada tahun 2004 merupakan masa jaya stasi Onan Sampang. Hal ini terbukti dari berbagai prestasi yang diraih oleh umat, baik itu perlombaan koor dari PIK maupun PAK, Kitab Suci, perlombaan khotbah. Pada masa itu umat aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan oleh paroki misalnya sermon dan kursus-kursus. Umat tidak pernah absen dalam mengikuti kursus. Stasi selalu mengutus para sintuanya mengikuti pembekalan-pembekalan di Paroki.

Kepengurusan dan Jumlah Umat Sekarang

Gereja Baru

Tahun 2012, stasi Onan Sampang semakin berkembang dalam hal jumlah umat. Mereka sudah berjumlah 64 KK dengan jumlah jiwwa 350 orang. Perkembangan jumlah yang cepat itu menuntut untuk membanguan gereja yang lebih besar lagi supaya dapat menampung umat. Hingga saat ini, stasi ini masih mengumpulkan dana untuk pembangunan gereja yang baru. Demi menjaga keakraban dan kerja sama, stasi dibagi menjadi 2 lingkungan yakni lingkungan St. Yosef (38 KK) dan lingkungan St. Maria (26 KK). Kepengurusan awal stasi ini adalah Sabar Sitinjak sebagai Ketua Dewan Pastoral Stasi (KDPS I). Para sintuanya adalah Elmar Saragi, Maringan Butarbutar, Pitua Br. Manurung, Lawentus Sitinjak dan Joker Sirait. Pengurus gereja pada periode 2011-2014: Pardomuan Butarbutar (KDPS), Raja Tua Sijabat, Riris Yeni Tambunan, Monri Manurung, Norita Sirait, Syailendra Simaremare dan Naliper Gultom.